Selasa, 26 Februari 2013

Minang Beda dengan Padang

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)
Minang berartikebenaran, kerbau sebaliknya. Jadi Minangkabau artinya “menang dengan kebenaran”. Orang Minang bisa tulis baca setelah masuk ajaran Agama Islam. Dalam rentang waktu 20 tahun terakhir ini, terjadi perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat Minang. Perubahan itu, ibarat kata pameo; jalan lah diasak urang lalu, cupak lah diganti dek urang panggaleh. Maksud dari tulisan ini tak lain dan tak bukan untuk sekedar menggugah hati Saudara-saudara saya di Alam Ranah Minang, agar sama-sama menyadari perubahan tersebut untuk dicarikan solusinya ke depan.
Untuk menjadi pemimpin seseorang harus memenuhi syarat utama sebagai berikut :
v Bagalanggang di mato urang banyak, maksudnya seseorang pemimpin harus memiliki track record yang tidak diragukan oleh khalayak ramai tentang prestasi yang pernah diraihnya bukan ditender oleh partai.
v Basuluah matoari, yaitu kesuksesan sang pemimpin harus dikenal oleh orang banyak bukan hanya oleh kelompok-kelompok tertentu saja, agar sang pemimpin dapat diterima oleh pengikutnya tanpa adanya keragu-raguan.
Ibarat pepatah Minang
Baranang kabau dalam tabek (berenang kerbau dalam kolam)
Didalam tabek digigik lintah (didalam kolam digigit lintah)
Kok panghulu indak tahu kato nan ampek (bila pemimpin tidak tahu kata yang empat)
Balunlah buliah mamarentah (belum bisa dia memerintah)
Selama ini, Sumatera Barat yang dikenal lumbung pendidikan berbudaya apakah benar-benar sudah berbudaya? Atau membudayakan pendidikan ke arah negatif?
Namun sayang, sosok orang pintar yang disegani tinggal tidak seberapa. Ini adalah buah dari pendidikan yang salah. Kenakalan remaja jadi menu setiap hari. Tapi pernahkah kita mendengar kenakalan orang tua. Padahal, kenakalan orang tua (pemimpin) lebih dahsyat lagi. Melakukan korupsi dan selingkuh.
Selalu Ingin Lebih Baik
Istana Negara Tri Arga, dulunya diagung-agungkan sekarang disulap jadi sebuah Hotel Novotel. Padahal, Istana Tri Arga yang terletak di jantung kota Bukittinggi, punya nilai sejarah yang sangat tinggi, JASMERAH kata almarhum Soekarno. Disana, ada sekolah rakyat, tempat bersekolahnya Proklamator RI, Bung Hatta. Tak hanya itu, juga terdapat kantor pengadilan yang pernah mengadili tokoh-tokoh perjuangan.
Namun sungguh amat disayangkan, ketika itu Gubernur Sumbar, ikut memuluskan ketika sebuah Istana disulap jadi hotel milik swasta. Dan kemana raibnya dana kompensasi tanah tersebut. Ada juga yang bertanya, kenapa sampai sekarang fasilitas umum, Istana Tri Arga, dijadikan Hotel Novotel. Padahal namanya Istana Negara RI wajib dijaga kelestariannya, bukan dijadikan tempat bisnis.
Percuma saja memiliki Profesor dan Doktor yang jumlahnya segudang dengan biaya pendidikan ditanggung negara. Tapi hanya bisa bicara dari warung ke warung. Bukannya berbuat untuk kebaikan negara. Sampai pabrik Semen Indarung diakuisisi, masyarakat minang mainbau MUI, LKAAM, Ormas lainnya dan Publikasi ribut-ribut setelah keluar komisi dan mendapat jabatan posisi tidak terdengar suaramu lagi. Walaupun bertukar namanya PT RAJAWALI untuk menyenangkan hati. Dasar Bangsa Kaki Lima, itulah namanya.
Presiden pilihan rakyat SBY adalah sosok yang pintar, bukan orang pandai yang gila sanjungan dan hormat. Orang pintar seperti : Alm. Bung Hatta, Alm. Buya Hamka, Prof. Emil Salim, Jendral Sudirman (Alm), Tuanku Imam Bonjol (Alm) dan sebagainya begitu disegani keberadaannya, dan perhatikanlah!! bagaimana para orang-tua mendidik anak-anaknya supaya dapat seperti mereka-mereka itu di kemudian hari nantinya.
Dua kerusakan mendasar dalam masyarakat kita saat ini adalah kerusakan nagari dan kerusakan tapian. Artinya, kerusakan itu terjadi dari yang kecil dan sangat pribadi yaitu tapian (tempat mandi). Kerusakan lebih luas dan besar, yaitu nagari sebagai wadah bermasyarakatnya orang Minang. Untuk melihat sejauhmana kerusakan tersebut, ada baiknya kita telusuri mulai dari tunjuk ajar yang sering kita dengar dalam berbagai pertemuan kaum maupun pertemuan nagari. Tunjuk ajar itu adalah; rusak nagari dek pangulu, rusak tapian dek nan mudo. Hal itu memang sedang terjadi, dua kerusakan sekaligus.
Pada tahun 80-an, lahir lagu kocak yang dibawakan almarhum Syamsi Hasan, tembang Minang itu cukup populer dan meledak di pasaran. Kaset yang diproduksi Tanama Record itu seolah-olah menyindir kehidupan masyarakat Minang yang sudah lari dari Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bahkan, pertanda daerah ini sudah diambang kehancuran.
Padahal, saat itu sosok Syamsi Hasan yang juga pegawai negeri merasakan tanah kelahirannya Sumatera Barat hancur gara-gara kepemimpinan salah arah. Dimana-mana terjadi ketidakberesan, oknum pejabat yang dekat dengan pemilik kursi nomor satu di rumah Bagonjong, menikmati enaknya mengeruk keuntungan pribadi. Zaman itu, tidak ada yang berani bersuara vokal untuk menentang perbuatan bejat sang pejabat atau pemerintah yang salah jalan. Maka Syamsi Hasan, dengan gayanya sendiri mencoba lewat lirik lagu sebagai bahasa kiasan. Tujuannya, agar rakyat lebih arif, namun dengan lirik lagu itu banyak yang tak mengerti. Seperti judul lagu, Lego Pagai, menantu dengan mertua, anak dengan ayah, mamak dengan kemenakan pada berantam. Kemudian urang sumando bertingkah macam-macam. Ini tak lain, karena banyaknya orang jadi sumando di tanah Minang dan banyak pula perangainya. Seperti sumando berasal dari suku Batak, maka terciptalah lirik lagu Sopir Batak Stokar Kaliang, artinya, suku dari utara itu cuma bisa bersuara keras dan lantang, sedangkan stokar orang Kaliang pintar bicara tapi hasil tak ada. Jadi ada pameo mengatakan, lidahnya seperti urang kaliang.
Kondisi Ranah Minang makin rusak, karena tidak ada lagi penghargaan bagi Bundo Kanduang. Kaum wanita yang begitu diagungkan di Ranah Minang mulai melakukan perbuatan tidak senonoh. Maka lahirlah lagu Saleha. Lirik ini menceritakan bagaimana seorang wanita yang tidak setia dan selalu berbohong dengan kekasihnya. Kemudian, tak terhitung banyaknya orang Boco Aluih, terutama niniak mamak yang seenak perutnya memberikan gelar Datuak kepada orang-orang berduit. Sebetulnya, mereka itu tidak pantas dengan gelar yang disandang itu. Hal ini disebabkan, niniak mamak lebih mementingkan keuntungan pribadinya dibandingkan untuk kaum sendiri. Bahkan, tidak segan-segan berantam dengan anak kemenakan soal tanah. Karena matanya sudah silau dengan harta duniawi yang tidak bisa dibawa mati.
Di masa pergerakan kemerdekaan, para perantau Minang sudah sukses sebagai tokoh pergerakan nasional hingga Indonesia merdeka. Sebut saja beberapa contoh, Alm. DR. Haji Abdullah Ahmad (PGAI), Bung Hatta (Alm), Agus Salim (Alm), M Yamin ( Alm), Mr. Assaad (Alm), M. Natsir (Alm), Tan Malaka (Alm), Sjahrir (Alm), dan lain-lain. Sejumlah pebisnis Minang yang besar di rantau juga sempat membesarkan bisnisnya di kampung, seperti : NPM, HZN, dan ANS. Begitu pula di bidang perhotelan seperti Hotel Dimens dan Hotel Denai. Untuk menggerakkan roda ekonomi daerah, para pedagang Minang yang telah sukses di rantau bersepakat pula mendirikan Bank Nasional (Banas) di Kota Bukittinggi Bank ini merupakan bank pertama di republik ini. M. Ruzuar (alm.) (Wowo Group) dealer mobil Dodge, Fiat, Jeep, Ford, Pabrik dan Ekspor Impor, Hadis Didong, Pabrik Minyak Goreng dan Pabrik Sabun. H. Hasyim Ning (Alm) pengusaha nasional.
Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Kok jadi bujang ka Pakan, iyu bali balanak bali, Ikan panjang bali dahulu, Kok jadi bujang bajalan, ibu cari dunsanak cari, Induk samang cari dahulu. Maka dari itu kehidupan di rantau kita jadikan guru untuk memimpin kampung halaman, bukan sebagai pengajar.
Dalam pemerintahan daerah dan perguruan tinggi, sejumlah tokoh Minang juga berhasil dalam karirnya, seperti; Di zaman Prof. Harun Zain ada nama seperti Prof. Mawardi Yunus, Prof. Firdaus Rifai, Prof. Yacub Isman (Alm), Prof. Djamil Bakar (Alm), Ismail Lengah (Alm), Prof. Mahmud Yunus (Alm), Prof. Asnawi Karim (Alm) Achjarli A Djalil, SH, Prof. Alfian Lains, Prof. Herman Sihombing (Alm), Prof Hendra Esmara (Alm), dan sebagainya. Di masa itu juga ada nama Dokter H. Ali Akbar (Alm) yang mendirikan perguruan tinggi dan rumah sakit YARSI. Di kalangan artis Hj. Erni Djohan, Hj. Elly Kasim, Nuskan Syarif (Alm) artis ibukota. Sementara di era Azwar Anas, muncul nama-nama seperti; H. Karseno, Drs. Sjoerkani (Alm), A. Kamal, SH (Alm), Prof. Ir. Tamrin Nurdin, Anas Malik (alm), Nur. B. Pamuncak (alm), Yanuar Muin, Syahrul Udjud,SH, Sabri Zakaria, Ir. Zulfi Syarif, Prof. Amir Syarifudin, Drs. Tasnim Dahlan (Alm), Drs. Amir Ali (Alm) (Dinas P & K Sumbar), Drs. Aristo Munandar (sekarang Bupati Agam), dan lain-lain. Dalam bidang bisnis, orang Minang yang cukup sukses membuka usaha di daerah ini seperti Sutan Kasim (Alm) mendirikan PT Sutan Kasim/Suka Fajar, Kasuma (Alm) dan Anas Lubuk (Alm) yang membesarkan Harian Haluan, S. Dt. Pangeran (Hotel Pangeran’s), H. Amran (Baiturrahmah), Gusman Gaus (Alm) (perkayuan) serta Indomar Asri (Grafos), Basrizal Koto (Minang Plaza), H. Syamsudin (Hotel Rocky). H. Aminuzal Amin, H. Bustanul Arifin, pengusaha nasional. Jenderal Polisi Awaluddin Djamin, Mayjend TNI Syamsu Djalal, Prof. Emil Salim.
Berbeda dengan yang besar di daerah yang ditunjuk sebagai pemimpin, dia punya kelompok dan perangai sehingga dalam mengambil keputusan tak netral. Aspek negatifnya menonjol termasuk mengangkat staf bukan berdasarkan mutu dan kualitas dalam bekerja unsur pertemanan yang lebih dominan. Sekarang yang dimaksud dengan kerusakan nagari tentunya kerusakan adat istiadat. Umpamanya kok limbago ka dituang, adaik ka diisi, raso jo pareso nan manipih. Mamak lah bak kato mamak, kamanakan lah bak kato kamanakan. Itulah yang terjadi di alam Minangkabau sekarang.
Jujur dalam pengabdian, namun dalam pembagian bagaimana hasilnya…? Orang perantau mengapa lebih sukses dan berhasil…? Apalagi kalau memimpin kampung halaman. Adapun perbandingan yang bisa kita ambil hikmahnya, yakni : Masyarakat pendatang atau perantau biasanya mereka rajin, sabar, mau belajar, mau melihat lingkungan sekitarnya, mau mendengar nasehat dan cerita pengalaman dari orang tua, berhemat tidak boros dan sebagainya. Sedangkan masyarakat asli atau penduduk setempat itu lebih cenderung malas bekerja, mereka lebih suka disanjung atau dihormati tidak mau mendengar nasehat orang tua, punya watak atau karakter sok tahu, lebih senang menceritakan kejelekan orang lain, tidak mau mengkoreksi diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar