Selasa, 26 Februari 2013

Bola Panas dari Nagari Minang

OPINI | 13 October 2012 | 11:58 Dibaca: 608   Komentar: 4   2 aktual
1350104688764384290
Logo Semen Padang FC (www.hattrick.org)
Kisruh terus terjadi di tubuh PSSI, kali ini manuver dilakukan oleh klub kebanggaan tanah Minang, Semen Padang FC. Melalui Toto Sudibyo komisarasi PT. Kabau Sirah yang membawahi klub juara IPL musim lalu, Semen Padang FC mengancam akan menarik 9 pemainnya dari tim nasional. Ancaman ini datang ditengah persiapan akhir timnas menuju piala AFF 2012.
Dan ini hanya terjadi di Indonesia, ketika sebuah klub berani mengancam dan mengintervensi federasi resminya hanya karena berseberangan pendapat. Entah virus apa yang menjangkiti orang-orang seperti Toto Sudibyo hingga berani mengeluarkan kalimat naas ini.Bukan kali pertamanya di Indonesia sebuah klub berani mengintervensi federasi resminya, sebelumnya Sriwijaya FC  dan Persib Bandung juga melakukan hal yang sama.
Catalonia, Calciopoli dan Kerimov
Coba kita lihat keluar sana, ke benuanya industri sepakbola modern. Klub sebesar Barcelona tidak pernah berani mengancam federasi sepakbola Spanyol (Real Federación Española de Fútbol /REEF) akan menarik pemainnya dari timnas hanya karena Catalonia tempat homebase Barca ingin lepas dari Spanyol. Barcelona FC tidak ingin terlibat dalam pergumulan politik antara Catalonia dan Spanyol, padahal sejak lama orang-orang di Barca merasa dipinggirkan oleh Spanyol. Padahal ada setengah pemain inti timnas Spanyol dari klub Barcelona, tanpa mereka sulit rasanya Spanyol banjir trofi.
Ke negeri Pizza Italia, Kasus Calciopoli tahun 2006 yang menjadikan Juventus sebagai klub pesakitan, kehilangan gelar dan turun kasta, tidak lantas membuat Juventus ingin membalas dendam ke FIGC dengan menarik pemainnya dari timnas Italia, keteguhan hati dan nasionalisme Juventus berbuah gelar Piala Dunia 2006 bagi Italia dan federasi FIGC yang pernah menghukum mereka. Sikap profesionalisme bisa membedakan antara kepentingan klub dan bangsa.
Singgah di negeri Beruang Merah, Rusia. Milyuner muslim Suleyman Kerimov pemilik klub Anzhi Makhachkala anggota liga Primer Rusia, yang saya yakin lebih kaya dari Toto Sudibyo dan bossnya. Kerimov tidak mau mencampuri urusan timnas hanya karena negeri leluhurnya Dagestan bermasalah dengan Federasi Rusia. Kerimov tetap mendukung Liga Primer Rusia dan timnas Rusia. Real Madrid, AC Milan, Liverpool dan Barcelona merupakan segelintir klub Eropa yang dilemari mereka berjejer tropi juara, tapi klub-klub ini tidak pernah bertindak bodoh diluar nalar ingin mengancam federasinya.
Asa di Ranah Minang
Kembali ke ranah Minang yang elok, lupa kah orang Minang dengan sejarah silam ,ketika kaum bersorban putih:Kaum Paderi yang semangat revolusinya ingin menjalankan syariat islam dengan murni harus berhadapan dengan kaum adat yang konservatif dan didukung penjajah. Sang penjajah kemudian menjadi ponyokong kaum adat menggempur kaum revolusi. Tidak puas dengan politik adu domba sesama minang, Belanda menjadikan Sentot dari tanah Jawa sebagai kaki tangan Belanda di  Negeri Minang. Tapi Sentot sadar akan politik adu domba Belanda, segera berbalik arah. Dan ternyata kejadian ini berulang kembali di ranah Minang. Kaki dan tangan si penjajah ternyata masih ada dan ingin mencengkram sepakbola di tanah Minang, mereka tidak ingin revolusi sepakbola nasional seperti revolusi aqidah di nagari Minang dahulu, bahkan si Sentot ini belum sadar dari kebodohannya.
Semenjak SPFC berniat pindah ke ISL dan mencomot satu persatu pemain timnas, dugaan saya SPFC bisa dijadikan alat untuk menggembosi timnas, dan ternyata dugaan saya terbukti benar. SPFC akhirnya menjadi si maling kundang, menanti vonis menjadi sebongkah batu bersujud seperti dalam legenda Minang yang hebat, menjadi museum abadi sebuah klub yang salah urus. Hanya ada di Indonesia “kerbau” bisa mengintervensi tim nasional dan federasi sepakbolanya.
Ya sudah lah seperti judul Lagu Bondan Prakoso & Fade To Black, kalau itu sudah menjadi keputusan Semen Padang, pecahkan saja Gelasnya biar ramai seperti kalimat pujangga dalam film Ada apa dengan cinta, biar sepakbola kita tambah gaduh dan orang-orang yang kalah semakin galau. Mungkin saja manajemen Kabau Sirah memang masih senang bergumul dalam kubangan lumpur layaknya kerbau. Dan bisa jadi kavling lumpur lapindo yang luas menggiurkan si Kerbau Merah.
Dan yang pasti, jika skenarionya memaksa pemain Semen Padang keluar dari Timnas, timnas Indonesia harus terus berjuang menuju piala AFF 2012. Masih banyak anak bangsa yang rindu mengenakan jersey Garuda didada mereka, lebih baik berharap kepada mereka yang loyal terhadap negaranya tanpa tendensi, kepada anak muda yang belum terkontaminasi oleh virus materi. Revolusi sepakbola nasional kita tidak boleh dikalahkan oleh nafsu kelompok yang haus uang rakyat dan kekuasaan. Ayo dukung PSSI menuju industrialisasi sepakbola. Save Timnas, Save PSSI, Kick Politic Out of Football.
Salam Revolusi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar