Senin, 25 Februari 2013


Ini lah jalan ceritanya
Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!
Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.
“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”
“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”
“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”
“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.
“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”
“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.
Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karenahal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.
“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.
Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.
Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa tak tahu kesalahan sendiri,
lambat laun hidupnya keji
kalau suka berdendam kesumat,
alamat hidup akan melarat

Carito - Dari Pisang Buai sampai Sibuk Ba-Partai

Assalamualaikum wr wb.

Sebuah carito ringan....

Manjalang puaso kapatang sempat pulang ka kampuang jao..
ndak lamo sih cuma sekitar 24jam

Banyak juo nan barubah...

Kini di SPG lamo alah tagak sikolah baru.. SMP baru kironyo..
Sempat bakaliliang jo Bendi dari pasa sampai carocok.. (kebetulan hari Kamih)
Pasa di Painan... makan palai Bada.. (ondeh alah lamo indak mengicok palai bada)
Mambali Pisang Buai.. di paragokan 5.000
ondeh bara ka di ago ko....
jo urang rumah kami saliang bapandangan ???
di Pasa Cisalak 15.000 kok dapek itu alah murah sangaik
Tapi namonyo ibuk2 di ago juo lai.. 4ribu lai dapek tu mak..
langsuang diiyokan.. babali 2 sikek..
Eh.. sampai di rumah dikecekan.. ondeh tamaha tu mah..
paliang harago jo cuma 3ribu...

Tapi ado ciek lai.. nan taraso di Painan..
Banyak urang nan sibuk ba- partai
Bendera berbagai warna banyak di jalan-jalan
sahari tu ajo banyak nan bagarombol mamakai jaket partai
ado nan biru.. kuniang.. merah pun ndak katinggalan

Mulai di Koto..
ado nan babandera biru..
balambang sagi tigo..
di tangah Painan ado nan ba hati nurani
eh.. pas tibo jo bendi di carocok
nan pakai kapalo garuda pun
sadang rapek di lapau tapik lawek tu...

Kok bendera jaan dihituang.. rami..
pasti kala Marawa urang baralek tu mah..

Takana jo ketua kelas ambo wakatu SD
kini caleg untuak nan bahati nurani daerah Lunang siLaut.
.....
Pas di puncak Langkisau
dibawah menara Telkomsel tuhhh
(tampek lari kalau Tsunami....)
sambie mamandang Perumnas nan dimudiak...
ambo telepon.. kawan ambo tuh..

Suaro sangajo dimiripkan model tentara manelpon..
(ketua partainyo kan Jenderal..).. ambo Pakai no Jakarta 0813...1068
" Selamat Siang.... Saya dari Dewan Pimpinan Pusat Partai. .....Jakarta
Mau konsolidasi partai dengan Kawan-kawan di daerah...
Berdasarkan data base yang ada di DPP saudara adalah Calon Legislatif untuk
daerah pemilihan Lunang Silaut. kabupaten Pesisir Selatan...."
Dijawek serius.. jo kawan ambo tuh.. " Benar Pak"
" Sekarang bagaimana perkembangan partai dan kondisi daerah pemilihan saudara??"
Ondehhh dijawek lah samo kawan ambo tu.. " Siap pak.... Jadi berdasarkan perkembangan terakhir...... kondisi partai kita ....bla..bla..bla (panjang leba lah kawan ko bacarito..)... sampai akhir-nyo..
" Saudara siap tidak Korupsi???"
"Siap Pak"
"Oke.. kalau saudara korupsi .. saya bisa lihat dari puncak langkisau.. ini oi GAPUAK!!!"
......ndak tahan ambo manahan galak lai.. do...

" Oiiiii angku kironyo... Ndi....ee alah ....
kasikolah ka lapangan Tennis...."



Semoga.. tercapai cita-cita nyo..
Kok alah jadi
bisuak...
Jaan lupo jo kawan ndak

wassalam..

Carito Lawak dari Ranah Minang





Gelar Urang Minang

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh, minta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Mula-mula dia bekerja sebagai tukang di Tanah Abang, setelah dapat mengumpulkan sedikit modal dimulai pula menggelar dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd., Dr. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman Chaniago MSc.

Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang.

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama, "Namo itu artinyo 'Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat', hehehe"



Film Luar Versi Padang

Enemy at the Gates — Lah tibo lawan di pintu…
Batman Forever — Kalalauang
Remember the Titans — Lai Takana jo si Titan
Die Hard — Payah matinyo
Die Hard II — Alun Juo Mati Lai…?
Die Hard III With A Vengeance — Ondeh Mandeh.. ndak juo mati mati doh…?
Bad Boys — Anak Kalera
Sleepless in Seattle — Mangantuak..
Lost in Space — Ilang di awang awang
Brokeback Mountain — Gunuang patah tulang
l Cheaper by Dozens — Bali salusin tambah murah..
You’ve got Mail — Ado surek tuh ha…
Independence Day — Hari Rayo
The Day After Tomorrow — Bisuak bisuak ko...
Die Another Day — Ndak kini matinyo..?
There is Something About Marry — Manga si Merry yo..?
Silence of the Lamb — Kambiang pangambok
All The Pretty Horses — Kudonyo rancak-rancak
Planet of the Apes — Kandang Siamang
Gone in Sixty Seconds — Barangkek lah waang Lai
Mummy Returns — Si One babaliak
Crash — Balago kambiang
Seabiscuit — Makan Biskuit di Lauik
Freddy vs Jason — Bacakak
Just in Heaven — Lah di Surgo
How To Lose A Guy in 10 Days — Baa caronyo manyipak urang..
Lord Of The Ring — Juragan batu cincin
Deep Impact — Taraso dalamnyo
Million Dollar Baby — Anak Rangkayo
Blackhawk Down — Buruang itam si Don
Saving Private Ryan — Mahagia les ka si Ryan
Dumb and Dumber — Pakak jo sabana Pandia..

Kisah Cinta Puti Bungsu dari Ranah Minangkabau

Aku diberi nama Puti Bungsu, karena aku bungsu dari empat bersaudara, satu-satunya perempuan dari tiga kakakku laki-laki. Dan karena aku bersal dari ranah Minang, Putri biasa dipanggil Puti, maka jadilah namaku Puti Bungsu. Aku lahir setelah belasan tahun Ibuku berharap punya anak perempuan, karena garis keturunan di ranah Minang adalah garis ibu, berikut harta pusaka pun turun ke anak perempuan. Perempuan sebagai penerus garis keturunan, tampa aku, anak perempuan satu-satunya, garis keluargaku dianggap punah.

Setelah Bapakku meninggal, dan Ibuku pensiun, aku dan Ibu merantau menyusul kakakku yang nomor dua ke Bandung. Sebagai gadis Minang, aku pandai memasak, menjahit baju, dan menyulam kembang. Bahkan aku juga pandai berdagang, Pasar Baru Bandung dan Tanah Abang, adalah tempatku memasarkan hasil karyaku berupuk rukuk dan mukenah bersulam.
Petatah petitihnya orang Minang, masih melekat di benakku, maka tak aneh jika aku sangat menyenangi yang namanya bermain kata. Menulis puisi jadi hobby yang tak bisa aku tinggalkan.
Tiga tahun lalu aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Rambun, Rambun lahir dan dibesarkan di Medan, dia berdarah campur aduk. Ibunya berasal dari Magelang Jawa Tengah, tapi lahir di Aceh. Bapaknya berasal dari Selat Panjang Kepualauan Riau. Lalu Ibu dan Bapaknya bertemu di Medan, maka tumbuh dan berkembanglah keluarga tersebut di Medan.
Aku dan Rambun memang perjumpa di dunia maya, tapi kami sudah mendarat di bumi sejak tiga tahun silam. Dari jumpa pertama kami di Hero Kali Malang, saat itu Rambun masih bekerja di sebuah perusahaan Taiwan yang bergerak di bidang penjualan alat-alat telekomikasi di Bogor.
Selama bekerja di perusahaan itu, Rambun sering ditugaskan ke Bandung, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Kesempatan itupun dia gunakan untuk lebih sering bertemu aku. Namun perusahaan tersebut terancam bangkrut, Rambun pun harus jadi mencari pekerjaan untuk bisa melanjutan kuliahnya di Extension UI, karena dia tidak bisa mengharapkan bantuan biaya dari orang tuanya. Ibunya meninggal setahun lalu, sedang Bapaknya pikun di usia muda, karena ulah temannya sesama pedagang. Maka tak ada pilihan lain, sementara Rambun terpakasa menarik metromini.
Namun cintaku pada Rambun benar-benar tidak melihat materi. Aku tetap cinta, meski aku tidak lagi berhadapan dengan seorang pegawai kantor yang selalu rapi dan wangi. Kuusap keringatnya yang bercucuran deras karena panasnya kota Jakarta.
Tiga bulan kemudian, dia mendapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan asing terkenal, yang bergerak di bidang telekomunikasi. Meski masih sebagai karyawan kontrak, dan harus bekerja ke luar kota, bahkan harus siap bertugas di seluruh Indonesia, Rambun sangat gembira mendapatkan pekerjaan itu.
Setahun berlalu, aku dan Rambun menjalani hubungan jarak jauh. Tagihan kartu haloku meningkat drastis, angka dua juta, dan tak pernah kurang dari satu juta rupiah perbulan harus aku bayar demi cinta. Uang gajiku habis, tabunganku selama berdagang juga ludes. Sampai-sampai cincin yang melekat di kedua jari manisku, habis aku jual untuk sekali pertengkaranku lewat telepon di pasar Kosambi.
Namun malam ini, setelah setahun kujalani, dengan pahit dan getir. Bulan purnama jatuh juga menyinariku menghapus kegelapan yang kualami. Rambun datang untuk melamarku. Mengucapkan janji untuk menikahiku, di depan Ibu, dan Kakakku. Mata Ibu berbinar-binar bahagia, putri satu-satunya tahun depan akan menikah. Meksi Rambun menjanjikan pernikahan dilangsungkan Juni tahun depan, dan harus menunggu satu tahun lagi, aku dan seluruh keluargaku sangat bahagia.
Malam kini bertabur bintang gemintang, telepon dari kerabatku berdering silih berganti, menanyakan perihal pernikahanku. Putri bungsu yang diharapkan memperpanjang garis keturunan, akan menikah. Alek atau perhelatanpun akan dilaksanakan di rumah gadang di Ranah Minang.
Malam-malamku mulai merajuk mimpi, terbayang indahnya perjalanan dari bandara, menuju Lembah Anai nan sejuk, jalan berkelok, diantara rimbunnya dedaunan hijau, dan indahnya air terjun Lambah Anai. Jalan menuju Payakumbuh, akan melewati Ngarai Sianok, Labuah Luruih, dan Pandai Sikek. Ranah Minang nan indah dan dari kejauhan menjulang atap rumah gadang yang melengkung artistik. Gunung Merapi dan Gunung Singgalang kukuh berdiri seolah menjaga Ranah Minang nan elok.
Bahkan nama gelar buat Rambut setelah menikah denganku pun sudah ada di benakku. Sutan Rambun Pamenan, adalah gelar yang bagus buat seorang Rambun. Itulah adat Minang yang selalu memberikan gelar kepada menantunya setelah menikahkan anak kemenakannya.
Rumah gadang akan direnovasi, ukiran kayu yang sudah mulai kusam, akan dipernis semua. Kusen-kusen pembatas tingkah atau kamar di rumah gadang akan diganti semua. Tingkah ada di kanan kiri dan bagian belakang rumah gadang. Itu semua adalah tugas Kakakku yang tinggal di Riau, karena dia paling dekat untuk bolak balik pulang ke Padang.
Sepupuku Anita di Bukittinggi mulai menawar-nawar pelaminan dan pakaian adat yang merona merah menyala. Lagu Malam-malam Baiko sudah terngiang-ngiang di telengaku. Lagu itu biasa didendangkan pada saat pernikahan orang Minang.
Waktupun bergulir tanpa kusadari, enam bulan lagi pernikahan akan dilangsungkan. Tapi bagaimana dengan kesiapan Rambun sendiri? Pagi ini Rambun meneleponku.
“Puti, hari ini sampai besok pagi, hand phone aku matikan, karena aku harus menjalani perjalanan darat dari Banjarmasin menuju Palangkaraya. Sama sekali tidak dapat sinyal, karena melewati hutan lebat”, itulah berita dari Rambun pagi ini.
Aku terima, meski aku tak begitu yakin. Haruskah aku masih belum bisa mempercayai Rambun, sementara pernikahan tinggal enam bulan lagi? Perkawinan haruslah didasari rasa percaya yang penuh, pondasi yang terbuat dari cinta dan kepercayaan, akan membuat bangunan rumah tangga itu kokoh. Tapi itulah kenyataannya, rumah tangga yang akan kami bina masih goyah rasa percaya. Akankah rumah tangga tersebut akan selalu terombang ambing, atau rubuh sesaat diterpa prahara?
Pagi ini sesuai janji, Rambun meneleponku sambil ketawa-ketawa. Aku mulai curiga, kesal seolah dia telah berhasil membohongiku. Bisa jadi dia habis jalan-jalan sepuasnya dengan perempuan lain.
“Aku minta ditelepon dari Wartel, atau dari kantor”, sergahku tanpa aling-aling.
“Aku tidak bisa telepon dari kantor, aku sedang berada di pedalaman Kalimantan Tengah. Mencari wartel saja susah, ini saja untung sudah dapat sinyal”, Rambun mencoba berargumen.
Pecahlah pertengkaran di pagi itu, aku batal berangkat bekerja. Dan pertengkaran pagi itu menjadi sumber pertengkaran demi pertengkaran pada hari-hari berikutnya.
Dengan alasan sering tidak dapat sinyal, hand phone Rambun sering tidak aktif. Aku sudah mulai gerah, persiapan pernikahan aku pinta dihentikan total, biar saja kalau memang pernikahan jadi, mungkin harus diundur.
Awan hitam pekat bergelantungan di otakku. Suasana mulai keruh, aku tak bisa lagi menahan emosiku. Darahku mengalir panas, mencuat sampai ke ubun-ubun. Aku langsung menghantam telepon kantor pusat perusahaan tempat Rambun bekerja, di Jakarta. Aku minta si brengsek Rambun segera dikeluarkan dari pekerjaannya. Telepon kantornya berdering ratusan kali hari ini, sampai operator teleponnya kewalahan mengangkat telepon dariku. Mereka sudah marah-marah, bahkan ada yang menyahut sebagai polisi Metro Jaya. Aku tak peduli, aku kalaf, semua sudah diluar otak warasku.
Lalu aku layangkan surat permohonan untuk diberhentikannya Rambun dari pekerjaannya. Surat tersebut langsung aku tujukan ke HRD-nya. Isi surat tersebut, tentang kelakuan Rambun yang tidak pantas bekerja sebagai karyawan di perusahaan itu.
Ternyata, Rambun benar-benar dipecat, orang-orang di kantor pusat muak mendengar dering telepon dariku.
“Pernikahan batal!”, itulah teriakan yang terlontar di mulut Rambun.
Aku terbakar dan terkapar, penyesalan atas ketidakwarasanku kini mengoyak-ngoyak hatiku. Luluh dan lantak semua pilar-pilar harapan yang sudah kubangun dari tiga setengah tahun silam. Kini usai terburai, menghancurkan harapan Ibu dan Kakak-kakakku juga.
Malam yang gelap pekat, dan lampu-lampu bahagia mulai meredup, dan padam. Senyap mendekap, dan sesepoi sesal menggoreskan pisau membelah panjang jantung dan hati.
Rambun masih tetap bertahan tinggal di Balikpapan, masih bisa kuhubungi. Dari beritanya dia sekarang memberi les private buat anak SMP dan SMA, khususnya mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris. Dan pada siang harinya dia jadi tukang ojek, kebetulan Ibu kosnya bermurah hati meminjamkan motornya, meski harus bagi hasil setiap harinya.
Setelah pertengkaran hebat, dan prahara itu usai, tapi syukurlah komunikasi kami tidak terputus. Rambun bisa menerima kejadian ini dengan lapang dada. Sebenarnya siapa didunia ini yang bisa memberi maaf pada dosaku yang sudah menghancurkan karirnya. Tapi dibalik itu, siapa perempuan jaman sekarang yang tidak silau dengan materi, dan siapa yang bisa menerima penghasilan suaminya sekecil apapun. Itulah satunya yang masih membuat hubungan kami masih bertahan.
Berita tentang buyarnya acara pernikahanku mulai merebak di kantor. Teman-teman mulai berbisik-bisik di belakangku. Satu dari temanku bernama Sari, dia terhitung tua untuk terlambat menikah. Dia mulai berfikir, aku akan mencoba menggaet hati teman laki-laki yang masih lajang di kantor ini. Cibirannya dan sindirannya bertubi-tubi menghantamku terang-terangan. Sampai-sampai aku diberitakan ambil kesempatan untuk berpacaran, jika ada tugas keluar kota. Aku dicap tak punya malu, tak mau keluar biaya.
Aku sudah tak tahan dihantam Sari setiap hari, lalu ku kirim sms ke hand phone-nya. “Aku sama sekali tidak berniat menikah dengan siapapun di kantor ini, masa depan tanpa pesangon, sama sekali tidak menarik bagiku, jika ada yang mau sama kamu, silakan kamu ambil semua”, tegasku.
Sms itu disebarkan Sari ke semua teman-teman di kantor, sampai ke HRD malah Direktris dan Ownerpun membaca sms terbut dengan kesal dan membenciku.
Aku duduk di pojok ruangan IT ini sendiri perempuan, semua teman laki-laki di ruangan ini membenciku karena sms tadi dianggap meremehkan mereka semua. Aku menangis sediri di pojok ini, sementara dari ruangan sebelah Sari teriak-teriak bersahutan dengan teman-teman lainnya menghina aku, mengejek aku terang-terangan, tidak ada lagi sindiran. Di bulan Ramadhan ini kita harus berusaha menjaga hati dan kata-kata. Aku hanya bisa tak henti melafalkan tasbih di mulutku. Berharap Allah segera menyadarnya mereka semua, dan memberikan jalan terbaik bagiku. Aku hampir pinsan di kantor ini, karena malam-malam aku tidak bisa tidur memikirkan nasibku, dalam keadaan berpuasa pula.
Tiba-tiba berita baik muncul, speedy mau dipasang di kantor kami. Berarti aku bisa mencari teman buat mencurahkan semua perasaanku. MIRCpun langsung kuinstall di komputerku, berikut Yahoo Messanger. Maka tertambatlah aku pada seorang pemuda Pakistan. Perkenalan itu berlanjut dengan tukar-tukaran ID dan foto-foto terbaru kami.
Pemuda tampan dari Pakistan itu bernama Nawaz Khan, kulitnya kuning langsat, sebaris kumis rapi di atas bibirnyanya yang merah. Matanya bulat, jengan biji mata hitam kental. Rambutnya tebal hitam mengkilat. “Smart!”, sergah hatiku.
Dia bekerja sebagai pegawai negeri di negaranya. Suaranya yang lembut dan Islami menyejukkan seluruh rongga-rongga hatiku. Kami tidak hanya berbicara melalui chat di YM, tapi beberapa kali kami sempat saling telepon.
Aku terbuai, pertama kali kami hanya sebagai sahabat, maka tanpa ragu-ragu Nawaz pun bercerita kalau dia sudah punya tunangan gadis enam belas tahun bernama Seema.
Namun karena kuatnya Islam di kampungnya, sampai detik ini dia pelum pernah bertatap muka dengan calon istrinya. Hanya selembar foto yang pernah dilihatnya. Seema hafal Alquran, dan memakai cadar dalam keseharian.
Tak disangkal suatu siang, Nawaz mengirim sebuah message, I have i, I have l, I have o, I have v, I have e, can u receipt me?”
“Oh ya?, buat siapa message itu Nawaz?”, sahutku.
“Atau siapa yang kirim message itu untukmu?”, sambungku lagi.
“Temanku dari Philipina”, jawabnya.
“Acha.. acha.. “, aku menirukan dialog Pakistan.
“Koi baat nahi”, lanjutku bilang tidak apa-apa.
“Aku kira message itu untukku, ternyata hanya kamu kirim buat share denganku”, tambahku menggoda.
“O… ya… ya…, ini untukmu, tadi aku ragu mengirim untukmu, aku takut kau tolak”, lanjut Nawaz malu-malu.
“Aku menerima cintamu Nawaz…”, lanjutku malu-malu juga.
Nawaz dan aku bahagia sekali hari itu, kami ternyata saling mencintai di dunia maya. Maka bunga-bunga cintapun bertaburan di angkasa. Lalu terpajanglah deretan kata-kata yang romatis dari Nawaz sepanjang siang. Pemuda tapan dan berwajah cakep itu kini bersemayam di seberang ruang hatiku buat Rambun. Rambun yang malang tak pernah kubuang, dia masih bertahta di singgasana yang meski sekarang telah terbagi dua. Aku dan Rambun masih rutin berkomunikasi.
Siang ini aku mulai uring-uringan, ingin cepat-cepat menikah dengan Rambun. Penantian panjang kini sudah lebih dari tujuh tahun. Aku tak peduli besar kecilnya pendapatan yang diterima Rambun sebagai guru les dan tukang ojek. Itulah kemurnian cinta yang bisa kupersembahkan untuknya, dan kesediaanku menerima Rambun apa adanya.
Aku mulai mengancam Rambun di telepon.
“Rambun, kapan kita menikah?, aku tak peduli dengan penghasilanmu, jika kita tidak juga menikah, aku akan pergi ke Pakistan, di sana aku punya sesorang yang mau menikahi aku”, ucapku mengajak Rambun menikahiku segera.
“Silakan!, asal kamu tahu, aku tidak pernah rela kau menikah dengan orang lain, setelah kau hancurkan karirku, sekarang aku sudah jadi gigolo karenamu”, ucapan itu menampar hatiku dengan sangat kerasnya.
Pembicaraan itu terputus, Rambun langsung mematikan hand phonenya. Aku menjerit, tangisku pun meledak di pinggiran halaman kantorku. Aku langsung berlari ijin pulang. Sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah, aku tak berhenti mengurai tangis. Saputanganku kuremas, sudah tidak sanggup menampung air mataku yang mengucur deras. Aku ganti mukena buat lap air mataku, yang selalu tersedia di tasku.
Aku tak sabar lagi ingin cepat-cepat menepon lagi Rambun.
“Rambun, apa benar kamu sudah sering main sama Tante-tante itu?”
“Benar Puti, aku sudah bosan hidup susah”, tandasnya.
“Itu salah Rambun, mengapa sampai sehina itu kau perbuat pada dirimu sendiri?, sampai dirimu sendiri kau jual?”, aku mulai berteriak.
“Dosa!...., zina sekali saja dosa besar, apalagi terus-terusan kau lakukan”
“Aku sudah putus asa Puti”, suaranya datar saja.
Aku meraung-raung sampai pagi, terbayang di mataku semua bakal hancur. Kalaupun aku sampai menikah dengannya, sanggupkah aku bersuamikan seorang pengidap penyakit spylis, dan mungkin HIV? Kenyataan pahit itu terus kutelan juga.
Pagi pun datang, aku harus juga berangkat kerja dengan mata sembab, lagi merah bara. Seperti biasa Nawaz hadir di pucuk pagi, menyapakan dengan lebut. Aku cerita semua pada Nawaz, tentang Rambun.
“Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir”, itulah kalimat dari Nawaz yang selalu menghiburku.
Lalu aku kembali terbenam chat dengan Nawaz.
“Nawaz, bagaimana jika suatu saat aku datang ke Pakistan dan ingin menikah denganmu?”, aku mencoba mengujinya.
“O.. aku pasti akan menikahimu Puti, tapi jika aku sudah menikah ketika kau datang, maukah kau jadi istri kedua?”, tandasnya
“Aku tidak mau, aku paling benci poligami”, kataku sedih.
“Lagi pula, Puti tidak akan tahan hidup di sini dengan semua budaya yang berbeda, perempuan harus pakai cadar, dan tidak boleh pergi dari rumah, juga makanan pokok kami kadang hanya sepotong roti dengan salad, tidak ada rendang di sini Puti”, kata Nawaz melucu.
Nawaz dengan penghasilan pegawai negeri, juga tidak akan mungkin memberiku ongkos buat pulang ke Indonesia, bila aku kangen Ibu dan Saudara-saudaraku. Uang 20 juta pulang pergi, kapan bisa Nawaz berikan dengan posisinya hanya sebagai pegawai negeri. Bagiku tak masalah, toh dari pertama juga aku hanya sekedar berteman.
“Lalu kapan kau akan menikah dengan Seema?”, tanyaku
“Secepat mungkin, karena aku merasa sangat butuh istri, setelah Puti selalu bermanja-manja denganku, gairahku untuk menikah jadi terpacu”, tegasnya.
“Aku mulai membayangkan malam pertamaku dengan Seema”, lanjutnya.
“Nawaz!.... Aku benci Allah…”, kalimat dosa itu terlompat dari mulutku.
“Puti!... baca Astaghfirullah, Lailahaillaloh, Muhammadarasulullah”, sergah Nawaz.
“Kamu sudah berpaling tanpa malu dari Allah semudah itu”, tandasnya
“Puti, cepat sholat tobat dua rakaat, jika itu tidak kau lakukan, aku akan menghilang darimu selamanya, aku lebih cinta Allah dari pada kamu Puti”, Nawaz mulai marah padaku.
Aku ucapkan semua, lalu aku berlari menunaikan shalat tobat, aku salah, dan sekejap tergelencir. Semua terlalu menyakitkan, semua kepedihan itu menari-nari di benakku. Tentang Rambun yang sudah terjerumus ke lembah hitam, tentang Nawaz yang akan segera menikah dengan Seema, tentang semua teman di kantor yang sudah membenciku. Semua menghantamku, menghempaskanku pada ketakberdayaan.
Dengan tubuh terhuyung lemah, aku terus bekerja. Di satu kesempatan aku coba membuka google, iseng kutulis nama Rambun di situ, lalu apa yang kutemukan. Aku menemukan nama Rambun, lengkap dengan alamat kantor dan beberapa nomor hand phone dan nomor telepon kantor tertera di situ. Situs Komite Minyak dan Gas Indonesia.
Aku langsung mencoba menelepon salah satu dari nomor itu, suara yang sangat kukenal menjawab halloku. Rambun langsung menanyakan dari mana aku tahu nomor itu, aku ceritakan semua. Rambun tidak marah, dia hanya berpesan jangan hancurkan lagi karirnya, karena baru tiga bulan ini, dia sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan minyak di Balikpapan.
“Puti, jika kamu masih mengharapkan aku, jangan kau hancurkan lagi”, pintanya.
“Aku janji, asal kau juga janji, jangan sakiti lagi hatiku”, balasku.
“Iya, semua kita serahkan pada Allah, dia yang menentukan, Insyaallah”, lanjutnya.
Kini aku merasa lega, ternyata Rambun tidak terjatuh ke jurang hitam, dia hanya kesal mendengar ancamanku untuk lari ke Pakistan. Sekarang aku harus benar-benar berserah diri kepada Allah. Pepatah yang satu ini akan kupegang kuat-kuat “Takkan lari gunung dikejar”
Jika Rambun memang jodohku, kami pasti menikah, namun bila Rambun bukan jodohku, maka Allah akan memberikan yang terbaik buatku. Amin.

padangsche bovenlanden: RANAH MINANG : Tempo Doeloe "Padang, Gaji Inlander Paling Rendah"

padangsche bovenlanden: RANAH MINANG : Tempo Doeloe "Padang, Gaji Inlander Paling Rendah"

Kamis, 07 Februari 2013

OBJEK WISATA DI SUMATERA BARAT

PADANG

PANTAI PADANG
Jika ingin mengunjungi objek wisata Pantai Padang sangatlah mudah. Karena terletak hanya beberapa meter saja dari pusat kota,akses ke pantai cukup dekat. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki beberapa menit saja. Pantai Padang yang memanjang dari utara ke selatan, memiliki hamparan laut nan biru dengan deburan ombak yang bergulung, sementara di kejauhan terlihat beberapa pulau dengan pasirnya yang menawan. Orang Padang menyebutnya Tapi Lauik (tepi laut ), atau Taplau (singkatan tapi lauik) istilah anak muda disini...

Keindahan dan deburan ombak Pantai Padang terasa lebih nikmat jika ditemani dengan menyantap berbagai jajanan yang memang banyak dijajakan sepanjang pantai. Ada goreng udang,goreng pisang, jagung panggang, pisang baker dan lainnya . Suasana akan semakin ramai saat mentari perlahan terbenam diufuk menyisakan segurat cahaya merah jingga temaram dikaki langit. Iringan sepeda motor dan mobil yang dikendarai muda-mudi terlihat berseliweran hanya untuk menikmati indahnya senja menjelang. Sementara di tepi pantai, segerombolan anak muda masih terlihat asyik bermain bola pantai . Begitu juga dengan para penyuka parasailing dan selancar, larut dalam deburan ombak Pantai Padang. Kearah Muara,sekumpulan anak muda tengah asyik bermain basket dan bercengkrama sesamanya. Tak jauh dari sana, penjual telur asin dan talua katuang (telur penyu) disinggahi para pembeli yang ingin merasakan telur yang konon berkhasiat bagus untuk kesehatan itu.

Di ujung Pantai didaerah Muara Padang terdapat Gunung Padang yang agak menjorok ke laut. Digunung ini terdapat kuburan Siti Nurbaya dan beberapa lubang pertahanan tentara Jepang pada perang dunia II, masih ada beberapa meriam peninggalan perang di sekeliling Gunung Padang .

PANTAI AIR MANIS & BATU MALIN KUNDANG
Sebuah kampung nelayan dengan pemandangan pantai yang indah dan bersih, berdekatan dengan Pulau Pisang Ketek (kecil) dan Pulau Pisang Gadang (besar). Pada saat pasang surut kita bisa menyeberang ke Pulau Pisang Ketek dengan berjalan kaki. Disini terdapat legenda Batu Malin Kundang si anak durhaka... berjarak kira-kira 4km dari pusat kota Padang, atau 30 menit dengan mobil. Bagi yang suka trakking bisa berjalan kaki dari Muara Padang melewati Gunung Padang menuju Pantai Air Manis...Menikmati panorama laut dari ketinggian Gunung Padang (200m dpl) akan sangat mengasyikan,1 jam perjalanan tidak akan terasa berat...lagian medan yang ditempuh juga tidak terjal dan berat seperti pendakian gunung....

PANTAI BUNGUS
Lokasi wisata pantai yang berdekatan dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya...bagi yang hobi mancing bisa melakukannya di sekitar pulau-pulau kecil tersebut..pemandangan yang indah dan pantainya yang berpasir putih menjadikan pantai bungus salah satu tujuan wisatawan...disekitar pantai ini banyak rumah makan yang menyediakan menu khusus gulai ikan dan gulai kepala ikan...

MUSEUM ADITYAWARMAN
Terletaknya di Jl Diponegoro 10 atau hanya berjarak sekitar 500 m dari terminal bis. Museum ini dibangun dalam bentuk rumah adat Minangkabau Gajah Maharam dan dilengkapi dengan dua lumbung padi di depannya. Terdapat sejumlah koleksi benda-benda pra-sejarah, barang-barang antik seperti keramik, catatan-catatan tua bersejarah, peragaan etnografis kebudayaan Minang dan Mentawai, serta benda-benda bersejarah lainnya lengkap dengan penjelasan mengenai kebudayaan daerah.

Di Museum ini juga dapat dilihat berbagai pernak-pernik dan penjelasan mengenai tradisi dan adapt istiadat masyarakat Minang serta aktivitas kehidupannya .

PADANG KOTA LAMA (Kampung Cina)
Cobalah untuk berjalan-jalan menelusuri suatu kawasan tua kota Padang yang dinamakan Kampung Cina yang terletak di sebelah selatan dari pusat bisnis dan perdagangan kota Padang. Di Kampung Cina ini mulai dari Jl Hiligoo terus ke selatan menuju Jl Pondok dan Jl Niaga Anda akan menemukan rumah-rumah tua milik keluarga Cina yang di bangun pada awal abad lalu. Kampung Muara Di ujung selatan Jl Niaga, belok ke kanan, Anda akan menemukan Jl Batang Arau yang menelusuri sungai Batang Arau. Jalan ini akan membawa Anda menuju ke Kampung Muara melewati sederetan kapal-kapal kecil yang berlabuh di Sungai Batang Arau. Di sisi jalan terdapat deretan gudang-gudang tua yang berusia lebih dari seabad. Kawasan pelabuhan kecil ini dulu pernah mengalami kejayaan pada tahun 1920-an ketika produksi kopi dari Sumatera Barat mencapai puncaknya.

MESJID RAYA GANTIANG
Mesjid Raya Gantiang adalah mesjid tertua di Kota Padang. Awalnya mesjid ini dibangun pada tahun 1700 M dalam bentuk semi permanen di tepi Batang Arau. Mesjid tersebut kemudian dibongkar oleh pemerintah kolonial Belanda, karena di tempat tersebut akan dibangun jalan menuju Pelabuhan Emma Haven di Teluk Bayur. Mesjid kemudian dipindahkan ke daerah Gantiang. Tanah tempat berdirinya masjid merupakan tanah wakaf dari masyarakat Gantiang.

Pembangunan mesjid didesain oleh beberapa tokoh masyarakat setempat, seperti; Angku Gapuak, seorang pedagang dari Pasa Gadang; Angku Syekh Haji Uma, kepala kampung di Pasa Gadang; Angku Syekh Kapalo Koto, ulama dan tokoh agama. Sedang pendanaannya didapat dari donatur dari beberapa daerah, seperti: Aceh, Medan, Sibolga, dan Minangkabau sendiri. Pembangunan dilakukan oleh masyarakat dengan bergotong royong di bawah pimpinan seorang militer Belanda, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab moral dari pemerintah kolonial Belanda karena telah membongkar mesjid pertama yang berada Batang Arau. Pada tahun 1819, pembangunan masjid tahap awal berhasil diselesaikan yaitu sebuah masjid permanen dengan ukuran 30 x 30 m yang dilengkapi dengan serambi (teras) selebar 4 m. Selanjutnya, pembangunan dilakukan secara bertahap untuk melengkapi bagian yang belum sempurna.

Arsitektur mesjid ini merupakan gabungan dari berbagai corak arsitektur, seperti: Belanda, Persia, Timur Tengah, China dan Minangkabau. Konstruksi masjid terbuat dari bahan bermutu tinggi. Bahan dari kayu, seperti: Kayu Ulin didatangkan dari Bangkinang, Riau; Kayu Rasak didatangkan dari Indrapura; dan Kayu Kapur dari Pasaman. Sementara komposisi lain, seperti seng, ubin dan semen didatangkan dari Eropa. Untuk bagian interior, seperti mimbar, dibuat dan diukir dengan ukiran Tiongkok yang merupakan sumbangan dari seorang saudagar China yang beragama Islam. Sedangkan lantainya dipasang ubin khusus yang didatangkan dari Jerman yang dibawa oleh perusahaan Belanda pada tahun 1910. Di samping itu, terdapat 25 tiang penyangga yang bermakna sebagai simbol dari 25 nabi dan rasul, dan juga terdapat beberapa ukiran indah dalam bentuk tulisan kaligrafi yang menghiasai masjid tersebut.

PULAU SIKUAI
Pulau Sikuai merupakan salah satu pulau yang terhampar disepanjang pantai barat Sumatera. Dapat dicapai hanya 45 menit dengan perahu dari pelabuhan Muara Padang. Di pulau ini terdapat sebuah resort (Sikuai Island Resort) dengan 21 cottage yang berkapasitas 45 kamar…Disini kita dapat menikmati keindahan pantai dan banyak aktivitas baharinya..

TAMAN HUTAN RAYA BUNG HATTA
Terletak 18 km arah ke timur kota pada ketinggian 400-1300 M dpl. Luas Kawasan yang menjadi bagian Kota Padang + 240 ha dengan topograpi bergelombang berupa bukit, tebing, dan lembah yang curam serta terjal. dengan suhu udara 130 C-260 C. Kawasan konservasi ini kaya akan flora-fauna, seperti Raflesia Gaduansi, Balangphora SP, Amorphopalus (bunga bangkai), Anggrek Alam dan satwa langka, Siamang, Kambing Hutan, Tapir, Beruang, Harimau Sumatra, Burung Kuau, dll. Tersedia Fasilitas wisata : guest house, tempat camping, jalan setapak, tempat peninjauan, parkir dan restoran. Trekking, menyaksikan flora dan fauna, camping, bersantai menikmati segarnya udara sambil menyaksikan panorama Kota Padang dengan latar belakang Samudera Hindia sangat cocok dilakukan di kawasan ini.



BUKITTINGGI

AIR TERJUN LEMBAH ANAI
Lingkungan Lembah Anai sangat mengagumkan. Hutan tropis yang lebat yang mengesankan dan merupakan hutan lindung. Didasarnya mengalir Sungai Batang Anai dengan airnya yang bening dan kelihatan sebuah air terjun setinggi 40 meter dekat sekali dengan jalan raya.

JAM GADANG
Jam Gadang merupakan bangunan menara yang tinggi menjulang dengan megahnya, beratapkan khas Minangkabau, terletak di tengah kota Bukittinggi. Jam Gadang menjadi landmark dan lambang kota Bukittinggi, dibangun di atas bukit yang bernama Bukit Kandang Kerbau pada jaman Pemerintahan Belanda tahun 1827 oleh Contraleur (Sekretaris Kota) Rook Maker. Dari puncak menara kita dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam di sekitar kota Bukittinggi yang dihiasi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago dan Ngarai Sianok. Selain itu, Jam Gadang juga berguna sebagai penuntun bagi masyarakat sekitar untuk mengetahui waktu. Yang unik pada Jam Gadang adalah angka 4 yang tertulis IIII.

BENTENG FORT DE KOCK
Benteng ini dibangun di pincak di dalam kota Bukittinggi tahun 1825 pada waktu terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan Harimau Nan Salapan terhadap Belanda. Disekitar Benteng ini masih dapat kita lihat meriam kuno periode abad XIX Masehi. Tempat yang luas ini telah dihiasi dengan taman sebagai tempat ketinggian menyaksikan, Ngarai Sianok dan perbukitan sekitarnya terdapat meriam kuno dan bangunan benteng. Ini merupakan tempat terbaik di Bukittinggi menyaksikan Sunset.

TAMAN BUNDO KANDUANG
Dari benteng Fort de Kock Anda dapat berjalan kaki ke Taman Bundo Kandung melalui sebuah jembatan kecil yang melintas diatas jalan Ahmad Yani. Nama taman ini mengacu kepada legenda tentang ibu utama (great mother) dari suku Minangkabau, simbol dari sistem kekeluargaan matrilineal pada adapt Minangkabau. Di Taman Bundo Kandung ini terdapat kebun binatang dan sebuah museum yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1934. Museum ini adalah museum tertua di Sumatera Barat. Bangunannya merupakan rumah adat minang yang indah dilengkapi dengan tempat penyimpanan (lumbung) beras serta patung-patung berwarna-warni di depannya.

NGARAI SIANOK
Ngarai Sianok terletak di Pusat kota Bukittinggi, membujur dari Selatan Nagari Koto Gadang terus ke Utara, Nagari Sianok Enam Suku dan berakhir di Palupuh dengan panjang 15 km, kedalaman 100 meter dan lebar 200 meter. Ngarai Sianok atau Lembah Pendiam ini merupakan suatu lembah yang indah, hijau dan subur, didasarnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing yang berwarna-warni dengan latar belakang gunung Merapi dan Singgalang yang menghijau merupakan alam yang mempesona. Keunikan Ngarai ini mudah dicapai, sebuah Ngarai di pusat kota yang tidak ditemui di kota-kota lainnya di dunia. Keindahan alam Ngarai Sianok yang mempesona itu selalu diabadikan oleh wisatawan dengan mengambil foto-foto serta sebagai imajinasi bagi para pelukis. Perjalanan menjelajah dengan melalui jalan setapak di lembah Ngarai merupakan rekreasi yang menarik, bila perjalanan terus keseberang Ngarai dalam waktu 45 menit anda akan sampai di Nagari Koto Gadang sebagai Nagari asal beberapa orang pemimpin bangsa Indonesia antara lain : H.Agus Salim dan Emil Salim.

KOTO GADANG
Koto Gadang merupakan sebuah Kenagarian (desa) yang melahirkan banyak tokoh-tokoh Nasional, mulai dari politikus, ilmuwan hingga sastrawan. Pernah pada suatu waktu mantan Presiden Soekarno datang ke Koto Gadang dan berujar “Koto Gadang, kotanya kecil, tetapi hatinya gadang (Koto Gadang, kotanya kecil tapi hatinya besar).

Koto Gadang terkenal dengan pusat kerajinan perak dan songket Minang. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda, kerajinan perak dan songket Koto Gadang sudah berkembang dengan pesat. Ketika itu, hasil kerajinan Koto Gadang sering di beli oleh istri para pejabat Belanda yang bertugas di Bukitinggi. Para istri tersebut membeli kerajinan untuk dipakai dan bahkan ada juga yang dibawa pulang ke negari mereka sebagai oleh-oleh.

sejak tahun 1911 kerajinan perak dan songket Koto Gadang telah memiliki brand image yang dikenal di dunia, dan selalu menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Motif kerajinan perak Koto Gadang dibuat dalam berbagai bentuk seperti perhiasan, aneka macam aksesori pakaian, aneka pajangan hingga miniatur rumah adat tradisional Minang. Perak Koto Gadang memiliki motif yang halus, warnanya tidak mengkilat, dengan kesan seperti doff dalam nuansa putih susu yang elegan. Ringan dan elok, bila dipadukan dengan songket Koto Gadang yang indah dan halus, dan cocok untuk menghadiri acara-acara resmi dan pesta.

LOBANG JEPANG
Terowongan ini panjangnya lebih 1.400 meter berkelok-kelok dibuat oleh tentara Jepang pada periode 1942, terletak di tengah taman panorama di Ngarai Sianok di bawah kota Bukittinggi, dengan lebar lebih 2 meter. Di dalam gua terdapat berbagai keperluan ruangan untuk kantor, rumah sakit, makanan dan persenjataan. Pintu masuk gua terdapat dibeberapa tempat, seperti di Ngarai Sianok, di Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi. Rakyat setempat menamakan ini adalah Lobang Jepang.

GEDUNG TRI ARGA / ISTANA BUNG HATTA
Gedung yang terletak di kota Bukittinggi ini masa dahulu merupakan pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia tahun 1947. Hal ini disebabkan oleh agresi Belanda yang ingin memecah belah bangsa kita. Untuk mengenang jasa Proklamator Bung Hatta, gedung Tri Arga diganti nama dengan Istana Bung Hatta.

PANDAI SIKEK
Pandai Sikek dikenal sebagai daerah pusat kerajinan ukiran dan tenunan Kain Songket. Pandai Sikek terletak di kaki Gunung Singgalang lebih kurang 10 km sebelum memasuki kota Bukittinggi dengan pemandangan yang indah. Disini kita juga dapat melihat kehidupan masyarakat yang bertani secara tradisional. Desa ini memiliki 1000 buah alat tenun. Lukisan kayu dan perabot rumah tangga juga dibuat disini.

TAMAN RAFFLESIA
Kawasan perlindungan bunga Rafflesia terletak di Desa Palupuh, 16 Km utara Bukittinggi. Rafflesia Arnoldi adalah bunga terbesar di dunia yang hanya terdapat di Sumatera. Wisatawan datang melihat bunga langka ini pada saat mekar yaitu antara bulan Agustus dan November. Anda dapat menghubungi kantor wisata di Bukittinggi jika ingin melihat bunga ini pada saat mekar.

JANJANG SERIBU
Janjang 1000 (tangga 1000) disebut demikian karena jumlah anak tangganya seribu anak tangga. Merupakan objek wisata yang masih alami, berliku-liku menelusuri celah-celah tebing. Jenjang 1000 ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengambil air minum ke lembah Ngarai Sianok, disamping untuk berolah raga jalan kaki dengan latar belakang gunung Merapi dan Singgalang yang angun dan mempesona. Pada tempat wisata ini tersedia tempat peristirahatan (kopel) WC, kolam pancing, lokasi camping serta lapangan parkir yang luas. Disamping itu kita menyaksikan perilaku binatang liar seperti kera yang berkeliaran sambil bermain dan melompat dari dahan ke dahan dan burung-burung berkicau bernyanyi menghibur para pengunjung

JANJANG AMPEK PULUH
Janjang Ampekpuluh (tangga Empat Puluh) ini dibangun pada tahun 1908 yang pada awalnya merupakan sebagai penghubung antara Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Sebagai salah satu objek wisata di Kota Bukittinggi, jenjang ini telah memberikan inspirasi kepada pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf dengan judul lagu "Andam 0i”

RUMAH BUNG HATTA
Salah satu objek wisata budaya adalah Rumah Kelahiran Bung Hatta, rumah ini adalah tempat lahirnya Muhammad Hatta atau yang lebih akrab dipanggil Bung Hatta yang merupakan seorang tokoh nasional dan internasional, seorang pejuang dan proklamator kemerdekaan Indonesia. Rumah ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta merupakan salah satu alternatif obyek wisata bila berkunjung ke Bukittinggi. Dan didalamnya juga terdapat foto-foto kenangan Bung Hatta dan keluarga.

ADU KERBAU
Adu kerbau merupakan salah satu atraksi dan permainan anak nagari di Minangkabau, dimana dua ekor kerbau diadu untuk saling bertarung. Kegiatan ini masih kerap dijumpai di desa-desa di Sumatera Barat. Salah satunya yang rutin dilaksanakan di desa Padang Laweh, sebuah desa kecil yang terletak 10 kilometer dari Bukittinggi. Atraksi ini diselenggarakan setiap Selasa dan Sabtu pukul 15.00 wib

DANAU MANINJAU
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik, berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luasnya sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Keberadaan Danau Maninjau menciptakan sebuah cerita legenda Bujang Sembilan, yang dipercaya keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Alkisah ada satu keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokkan paras dan perilaku Sani menjadi daya pikat tersendiri bagi seorang pemuda bernama Sigiran. Singkat kata mereka kemudian menjalin asmara. Suatu hari mereka dituduh telah melakukan perbuatan amoral oleh para bujang. Untuk membuktikannya, mereka melompat ke kawah gunung Tinjau. Mereka bersumpah jika mereka melakukan tindak amoral maka gunung ini tidak akan meletus, dan jika mereka tidak melakukan tindakan amoral maka gunung ini akan meletus. Akhirnya gunung tersebut meletus dan hasil letusan tersebut membentuk kawah besar yang kemudian diisi oleh air dan menjadi danau seperti sekarang.

Presiden Pertama RI Ir. Soekarno pada suatu ketika berkunjung ke Danau Maninjau dan takjub dengan keindahannya. Untuk mengungkapkan kekagumannya tersebut ia menulis sebuah pantun yang berbunyi : “Jika makan arai Pinang, makanlah dengan sirih yang hijau, jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”. Pantun yang ditulis oleh Presiden pertama RI ini, cukup mewakili untuk menggambarkan keindahan
panorama alam Danau Maninjau nan eksotis.

Danau Maninjau terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Untuk bisa mencapai Danau Maninjau, perjalanan ditempuh melalui jalur darat. Ada 2 alternatif jalur untuk menuju ke Danau maninjau. Pertama, memasuki jalur dari Barat dan Kedua dari Timur. Dari Barat, perjalanan dimulai dari Padang melewati jalur Pariaman menuju Lubuk Basung (ibu kota Kabupaten Agam), lebih kurang ditempuh selama 1 ½ jam. Dan dari timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Bukittinggi dan dari kota Bukittinggi perjalanan dilanjutkan ke Danau Maninjau melewati kelok 44

Di sekitar Danau Maninjau banyak hotel yang bisa dijadikan untuk tempat menginap, mulai dari kelas berbintang sampai kelas melati. Di samping hotel, ada juga /home stay /yang dikelola oleh masyarakat, yang bias dijadikan sebagai alternatif bagi para wisatawan untuk tempat menginap. Sedangkan untuk mengobati rasa lapar, para wisatawan bisa memilih tempat makan yang disukai, karena banyak restoran-restoran yang tersedia disepanjang pinggir danau dengan menyajikan berbagai menu baik aneka masakan Padang maupun masakan dari mancanegara.

PUNCAK EMBUN PAGI
Sebelum mencapai Danau Maninjau kita akan berhenti sejenak di Embun Pagi di desa Padang Gelanggang 24 km dari Bukittinggi untuk menikmati udara yang sejuk dan nyaman sambil memandang keindahan Danau Maninjau dengan airnya yang membiru serta dikelilingi oleh bukit-bukit yang menghijau

PUNCAK LAWANG
Puncak Lawang, Matur dikenal sebagai penghasil gula tebu yang pembuatannya masih tradisional. Penggilingan tebunya masih memakai tenaga kerbau. Lokasi yang tepat di atas Danau Maninjau menyuguhkan pemandangan alam yang eksotik. Selain suguhan alamnya dipuncak ini banyak kegiatan wisata dapat dilakukan, diantaranya :
- Paralayang, Gantole / Paramotor dilawang dan Bayur
- Pertunjukan Kesenian Rakyat di Lawang dan Bayur
- Permainan anak Nagari di Lawang dan Bayur
- Lomba Layang-layang di Lawang dan Bayur
- Wisata Ton di Matur
- Lomba Perahu Naga dan Pancu Biduk di Muko-Muko.


Tags: sumatera, objek wisata, pariwisata, sumbar

Rabu, 06 Februari 2013

Silat Tradisional Minangkabau


Ilmu bela diri pencak silat,adalah  ilmu bela diri orang Melayu,Ilmu bela diri pencak silat pertama kali tercatat  dalam buku sastra baru pada abad ke XI.Dikatakan bahwa Datuk Suri Diraja dari  kerajaan Pariangan di kaki gunung Merapi telah mengembangkan silat Minangkabau  di samping bentuk kesenian-kesenian lainnya.Kemudian silat Minangkabau ini menyebar  ke daerah-daerah lainnya melalui migrasi para perantau


Seni bela diri silat Minangkabau ini mencapai puncak kejayaannya    pada zaman kerajaan Majapahit pada aabd ke XVI.Kerajaan Majapahit memamfaatkan    ilmu bela diri silat Minang sebagai ilmu perang untuk memperluas wilayah kekuasaannya

Pada saat itu Majapahit hampir menguasai seluruh nusantara kecuali    kerajaan Pasundan di jawa barat.

Sejak itu ilmu bela diri silat Minang mulai dipelajari orang    baik itu di Jawa sampai ke Malaysia.

Sedangkan di Minangkabau sendiri pendekar pendekar minangkabau    juga mengembangkan silat itu sendiri dengan berbagai macam aliran,seperti silek    Tuo,silek Kumango,Silek Pauh dan sebagainya.

Pada prinsipnya gerakan silat Minang hampir sama semuanya,tetapi    dengan tampilnya beberapa macam motif gerakan menurut para pendekarnya atau    juga topografi daerahnya maka berkembang lagi silat Minang lainnya dengan nama-nama    silat yang rasanya agak unik, Yaitu silek randah,silek garis,silek buayo lalok,silek    bayang dan sebagainya.

Disamping itu silek Minang ini bukanlah semacam gerakan silat    biasa.Para pendekar minang disamping kelihaian bermain silat biasanya juga disertai    dengan ilmu kebathinan

Ada silatnya yang disertai dengan ilmu gayung.Ilmu yang dapat    membuat musuh lemas tidak berdaya jika terkena pukulannya.

Melihat perkembangan silat Minang saat ini,yang semakin hari    semakin tidak nampak lagi sasaran tempat latihannya.Makin lama generasi Minangkabau    ini tentu tidak lagi menguasai ilmu bela diri warisan nenek moyangnya.

Kepada para pndekar Minang yang menguasai ilmu silat Minang    ini kalau dapat hendaknya mau untuk menurunkannya kepada generasi penerus agar    silat yang pernah dipakai oleh kerajaan besar seperti majapahit ini tidak hilang    di negeri asalnya Minangkabau.

[I]Sumber  : http://www.wahana-budaya-indonesia.com[/I]