Kamis, 07 Februari 2013

OBJEK WISATA DI SUMATERA BARAT

PADANG

PANTAI PADANG
Jika ingin mengunjungi objek wisata Pantai Padang sangatlah mudah. Karena terletak hanya beberapa meter saja dari pusat kota,akses ke pantai cukup dekat. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki beberapa menit saja. Pantai Padang yang memanjang dari utara ke selatan, memiliki hamparan laut nan biru dengan deburan ombak yang bergulung, sementara di kejauhan terlihat beberapa pulau dengan pasirnya yang menawan. Orang Padang menyebutnya Tapi Lauik (tepi laut ), atau Taplau (singkatan tapi lauik) istilah anak muda disini...

Keindahan dan deburan ombak Pantai Padang terasa lebih nikmat jika ditemani dengan menyantap berbagai jajanan yang memang banyak dijajakan sepanjang pantai. Ada goreng udang,goreng pisang, jagung panggang, pisang baker dan lainnya . Suasana akan semakin ramai saat mentari perlahan terbenam diufuk menyisakan segurat cahaya merah jingga temaram dikaki langit. Iringan sepeda motor dan mobil yang dikendarai muda-mudi terlihat berseliweran hanya untuk menikmati indahnya senja menjelang. Sementara di tepi pantai, segerombolan anak muda masih terlihat asyik bermain bola pantai . Begitu juga dengan para penyuka parasailing dan selancar, larut dalam deburan ombak Pantai Padang. Kearah Muara,sekumpulan anak muda tengah asyik bermain basket dan bercengkrama sesamanya. Tak jauh dari sana, penjual telur asin dan talua katuang (telur penyu) disinggahi para pembeli yang ingin merasakan telur yang konon berkhasiat bagus untuk kesehatan itu.

Di ujung Pantai didaerah Muara Padang terdapat Gunung Padang yang agak menjorok ke laut. Digunung ini terdapat kuburan Siti Nurbaya dan beberapa lubang pertahanan tentara Jepang pada perang dunia II, masih ada beberapa meriam peninggalan perang di sekeliling Gunung Padang .

PANTAI AIR MANIS & BATU MALIN KUNDANG
Sebuah kampung nelayan dengan pemandangan pantai yang indah dan bersih, berdekatan dengan Pulau Pisang Ketek (kecil) dan Pulau Pisang Gadang (besar). Pada saat pasang surut kita bisa menyeberang ke Pulau Pisang Ketek dengan berjalan kaki. Disini terdapat legenda Batu Malin Kundang si anak durhaka... berjarak kira-kira 4km dari pusat kota Padang, atau 30 menit dengan mobil. Bagi yang suka trakking bisa berjalan kaki dari Muara Padang melewati Gunung Padang menuju Pantai Air Manis...Menikmati panorama laut dari ketinggian Gunung Padang (200m dpl) akan sangat mengasyikan,1 jam perjalanan tidak akan terasa berat...lagian medan yang ditempuh juga tidak terjal dan berat seperti pendakian gunung....

PANTAI BUNGUS
Lokasi wisata pantai yang berdekatan dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya...bagi yang hobi mancing bisa melakukannya di sekitar pulau-pulau kecil tersebut..pemandangan yang indah dan pantainya yang berpasir putih menjadikan pantai bungus salah satu tujuan wisatawan...disekitar pantai ini banyak rumah makan yang menyediakan menu khusus gulai ikan dan gulai kepala ikan...

MUSEUM ADITYAWARMAN
Terletaknya di Jl Diponegoro 10 atau hanya berjarak sekitar 500 m dari terminal bis. Museum ini dibangun dalam bentuk rumah adat Minangkabau Gajah Maharam dan dilengkapi dengan dua lumbung padi di depannya. Terdapat sejumlah koleksi benda-benda pra-sejarah, barang-barang antik seperti keramik, catatan-catatan tua bersejarah, peragaan etnografis kebudayaan Minang dan Mentawai, serta benda-benda bersejarah lainnya lengkap dengan penjelasan mengenai kebudayaan daerah.

Di Museum ini juga dapat dilihat berbagai pernak-pernik dan penjelasan mengenai tradisi dan adapt istiadat masyarakat Minang serta aktivitas kehidupannya .

PADANG KOTA LAMA (Kampung Cina)
Cobalah untuk berjalan-jalan menelusuri suatu kawasan tua kota Padang yang dinamakan Kampung Cina yang terletak di sebelah selatan dari pusat bisnis dan perdagangan kota Padang. Di Kampung Cina ini mulai dari Jl Hiligoo terus ke selatan menuju Jl Pondok dan Jl Niaga Anda akan menemukan rumah-rumah tua milik keluarga Cina yang di bangun pada awal abad lalu. Kampung Muara Di ujung selatan Jl Niaga, belok ke kanan, Anda akan menemukan Jl Batang Arau yang menelusuri sungai Batang Arau. Jalan ini akan membawa Anda menuju ke Kampung Muara melewati sederetan kapal-kapal kecil yang berlabuh di Sungai Batang Arau. Di sisi jalan terdapat deretan gudang-gudang tua yang berusia lebih dari seabad. Kawasan pelabuhan kecil ini dulu pernah mengalami kejayaan pada tahun 1920-an ketika produksi kopi dari Sumatera Barat mencapai puncaknya.

MESJID RAYA GANTIANG
Mesjid Raya Gantiang adalah mesjid tertua di Kota Padang. Awalnya mesjid ini dibangun pada tahun 1700 M dalam bentuk semi permanen di tepi Batang Arau. Mesjid tersebut kemudian dibongkar oleh pemerintah kolonial Belanda, karena di tempat tersebut akan dibangun jalan menuju Pelabuhan Emma Haven di Teluk Bayur. Mesjid kemudian dipindahkan ke daerah Gantiang. Tanah tempat berdirinya masjid merupakan tanah wakaf dari masyarakat Gantiang.

Pembangunan mesjid didesain oleh beberapa tokoh masyarakat setempat, seperti; Angku Gapuak, seorang pedagang dari Pasa Gadang; Angku Syekh Haji Uma, kepala kampung di Pasa Gadang; Angku Syekh Kapalo Koto, ulama dan tokoh agama. Sedang pendanaannya didapat dari donatur dari beberapa daerah, seperti: Aceh, Medan, Sibolga, dan Minangkabau sendiri. Pembangunan dilakukan oleh masyarakat dengan bergotong royong di bawah pimpinan seorang militer Belanda, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab moral dari pemerintah kolonial Belanda karena telah membongkar mesjid pertama yang berada Batang Arau. Pada tahun 1819, pembangunan masjid tahap awal berhasil diselesaikan yaitu sebuah masjid permanen dengan ukuran 30 x 30 m yang dilengkapi dengan serambi (teras) selebar 4 m. Selanjutnya, pembangunan dilakukan secara bertahap untuk melengkapi bagian yang belum sempurna.

Arsitektur mesjid ini merupakan gabungan dari berbagai corak arsitektur, seperti: Belanda, Persia, Timur Tengah, China dan Minangkabau. Konstruksi masjid terbuat dari bahan bermutu tinggi. Bahan dari kayu, seperti: Kayu Ulin didatangkan dari Bangkinang, Riau; Kayu Rasak didatangkan dari Indrapura; dan Kayu Kapur dari Pasaman. Sementara komposisi lain, seperti seng, ubin dan semen didatangkan dari Eropa. Untuk bagian interior, seperti mimbar, dibuat dan diukir dengan ukiran Tiongkok yang merupakan sumbangan dari seorang saudagar China yang beragama Islam. Sedangkan lantainya dipasang ubin khusus yang didatangkan dari Jerman yang dibawa oleh perusahaan Belanda pada tahun 1910. Di samping itu, terdapat 25 tiang penyangga yang bermakna sebagai simbol dari 25 nabi dan rasul, dan juga terdapat beberapa ukiran indah dalam bentuk tulisan kaligrafi yang menghiasai masjid tersebut.

PULAU SIKUAI
Pulau Sikuai merupakan salah satu pulau yang terhampar disepanjang pantai barat Sumatera. Dapat dicapai hanya 45 menit dengan perahu dari pelabuhan Muara Padang. Di pulau ini terdapat sebuah resort (Sikuai Island Resort) dengan 21 cottage yang berkapasitas 45 kamar…Disini kita dapat menikmati keindahan pantai dan banyak aktivitas baharinya..

TAMAN HUTAN RAYA BUNG HATTA
Terletak 18 km arah ke timur kota pada ketinggian 400-1300 M dpl. Luas Kawasan yang menjadi bagian Kota Padang + 240 ha dengan topograpi bergelombang berupa bukit, tebing, dan lembah yang curam serta terjal. dengan suhu udara 130 C-260 C. Kawasan konservasi ini kaya akan flora-fauna, seperti Raflesia Gaduansi, Balangphora SP, Amorphopalus (bunga bangkai), Anggrek Alam dan satwa langka, Siamang, Kambing Hutan, Tapir, Beruang, Harimau Sumatra, Burung Kuau, dll. Tersedia Fasilitas wisata : guest house, tempat camping, jalan setapak, tempat peninjauan, parkir dan restoran. Trekking, menyaksikan flora dan fauna, camping, bersantai menikmati segarnya udara sambil menyaksikan panorama Kota Padang dengan latar belakang Samudera Hindia sangat cocok dilakukan di kawasan ini.



BUKITTINGGI

AIR TERJUN LEMBAH ANAI
Lingkungan Lembah Anai sangat mengagumkan. Hutan tropis yang lebat yang mengesankan dan merupakan hutan lindung. Didasarnya mengalir Sungai Batang Anai dengan airnya yang bening dan kelihatan sebuah air terjun setinggi 40 meter dekat sekali dengan jalan raya.

JAM GADANG
Jam Gadang merupakan bangunan menara yang tinggi menjulang dengan megahnya, beratapkan khas Minangkabau, terletak di tengah kota Bukittinggi. Jam Gadang menjadi landmark dan lambang kota Bukittinggi, dibangun di atas bukit yang bernama Bukit Kandang Kerbau pada jaman Pemerintahan Belanda tahun 1827 oleh Contraleur (Sekretaris Kota) Rook Maker. Dari puncak menara kita dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam di sekitar kota Bukittinggi yang dihiasi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago dan Ngarai Sianok. Selain itu, Jam Gadang juga berguna sebagai penuntun bagi masyarakat sekitar untuk mengetahui waktu. Yang unik pada Jam Gadang adalah angka 4 yang tertulis IIII.

BENTENG FORT DE KOCK
Benteng ini dibangun di pincak di dalam kota Bukittinggi tahun 1825 pada waktu terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan Harimau Nan Salapan terhadap Belanda. Disekitar Benteng ini masih dapat kita lihat meriam kuno periode abad XIX Masehi. Tempat yang luas ini telah dihiasi dengan taman sebagai tempat ketinggian menyaksikan, Ngarai Sianok dan perbukitan sekitarnya terdapat meriam kuno dan bangunan benteng. Ini merupakan tempat terbaik di Bukittinggi menyaksikan Sunset.

TAMAN BUNDO KANDUANG
Dari benteng Fort de Kock Anda dapat berjalan kaki ke Taman Bundo Kandung melalui sebuah jembatan kecil yang melintas diatas jalan Ahmad Yani. Nama taman ini mengacu kepada legenda tentang ibu utama (great mother) dari suku Minangkabau, simbol dari sistem kekeluargaan matrilineal pada adapt Minangkabau. Di Taman Bundo Kandung ini terdapat kebun binatang dan sebuah museum yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1934. Museum ini adalah museum tertua di Sumatera Barat. Bangunannya merupakan rumah adat minang yang indah dilengkapi dengan tempat penyimpanan (lumbung) beras serta patung-patung berwarna-warni di depannya.

NGARAI SIANOK
Ngarai Sianok terletak di Pusat kota Bukittinggi, membujur dari Selatan Nagari Koto Gadang terus ke Utara, Nagari Sianok Enam Suku dan berakhir di Palupuh dengan panjang 15 km, kedalaman 100 meter dan lebar 200 meter. Ngarai Sianok atau Lembah Pendiam ini merupakan suatu lembah yang indah, hijau dan subur, didasarnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing yang berwarna-warni dengan latar belakang gunung Merapi dan Singgalang yang menghijau merupakan alam yang mempesona. Keunikan Ngarai ini mudah dicapai, sebuah Ngarai di pusat kota yang tidak ditemui di kota-kota lainnya di dunia. Keindahan alam Ngarai Sianok yang mempesona itu selalu diabadikan oleh wisatawan dengan mengambil foto-foto serta sebagai imajinasi bagi para pelukis. Perjalanan menjelajah dengan melalui jalan setapak di lembah Ngarai merupakan rekreasi yang menarik, bila perjalanan terus keseberang Ngarai dalam waktu 45 menit anda akan sampai di Nagari Koto Gadang sebagai Nagari asal beberapa orang pemimpin bangsa Indonesia antara lain : H.Agus Salim dan Emil Salim.

KOTO GADANG
Koto Gadang merupakan sebuah Kenagarian (desa) yang melahirkan banyak tokoh-tokoh Nasional, mulai dari politikus, ilmuwan hingga sastrawan. Pernah pada suatu waktu mantan Presiden Soekarno datang ke Koto Gadang dan berujar “Koto Gadang, kotanya kecil, tetapi hatinya gadang (Koto Gadang, kotanya kecil tapi hatinya besar).

Koto Gadang terkenal dengan pusat kerajinan perak dan songket Minang. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda, kerajinan perak dan songket Koto Gadang sudah berkembang dengan pesat. Ketika itu, hasil kerajinan Koto Gadang sering di beli oleh istri para pejabat Belanda yang bertugas di Bukitinggi. Para istri tersebut membeli kerajinan untuk dipakai dan bahkan ada juga yang dibawa pulang ke negari mereka sebagai oleh-oleh.

sejak tahun 1911 kerajinan perak dan songket Koto Gadang telah memiliki brand image yang dikenal di dunia, dan selalu menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Motif kerajinan perak Koto Gadang dibuat dalam berbagai bentuk seperti perhiasan, aneka macam aksesori pakaian, aneka pajangan hingga miniatur rumah adat tradisional Minang. Perak Koto Gadang memiliki motif yang halus, warnanya tidak mengkilat, dengan kesan seperti doff dalam nuansa putih susu yang elegan. Ringan dan elok, bila dipadukan dengan songket Koto Gadang yang indah dan halus, dan cocok untuk menghadiri acara-acara resmi dan pesta.

LOBANG JEPANG
Terowongan ini panjangnya lebih 1.400 meter berkelok-kelok dibuat oleh tentara Jepang pada periode 1942, terletak di tengah taman panorama di Ngarai Sianok di bawah kota Bukittinggi, dengan lebar lebih 2 meter. Di dalam gua terdapat berbagai keperluan ruangan untuk kantor, rumah sakit, makanan dan persenjataan. Pintu masuk gua terdapat dibeberapa tempat, seperti di Ngarai Sianok, di Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi. Rakyat setempat menamakan ini adalah Lobang Jepang.

GEDUNG TRI ARGA / ISTANA BUNG HATTA
Gedung yang terletak di kota Bukittinggi ini masa dahulu merupakan pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia tahun 1947. Hal ini disebabkan oleh agresi Belanda yang ingin memecah belah bangsa kita. Untuk mengenang jasa Proklamator Bung Hatta, gedung Tri Arga diganti nama dengan Istana Bung Hatta.

PANDAI SIKEK
Pandai Sikek dikenal sebagai daerah pusat kerajinan ukiran dan tenunan Kain Songket. Pandai Sikek terletak di kaki Gunung Singgalang lebih kurang 10 km sebelum memasuki kota Bukittinggi dengan pemandangan yang indah. Disini kita juga dapat melihat kehidupan masyarakat yang bertani secara tradisional. Desa ini memiliki 1000 buah alat tenun. Lukisan kayu dan perabot rumah tangga juga dibuat disini.

TAMAN RAFFLESIA
Kawasan perlindungan bunga Rafflesia terletak di Desa Palupuh, 16 Km utara Bukittinggi. Rafflesia Arnoldi adalah bunga terbesar di dunia yang hanya terdapat di Sumatera. Wisatawan datang melihat bunga langka ini pada saat mekar yaitu antara bulan Agustus dan November. Anda dapat menghubungi kantor wisata di Bukittinggi jika ingin melihat bunga ini pada saat mekar.

JANJANG SERIBU
Janjang 1000 (tangga 1000) disebut demikian karena jumlah anak tangganya seribu anak tangga. Merupakan objek wisata yang masih alami, berliku-liku menelusuri celah-celah tebing. Jenjang 1000 ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengambil air minum ke lembah Ngarai Sianok, disamping untuk berolah raga jalan kaki dengan latar belakang gunung Merapi dan Singgalang yang angun dan mempesona. Pada tempat wisata ini tersedia tempat peristirahatan (kopel) WC, kolam pancing, lokasi camping serta lapangan parkir yang luas. Disamping itu kita menyaksikan perilaku binatang liar seperti kera yang berkeliaran sambil bermain dan melompat dari dahan ke dahan dan burung-burung berkicau bernyanyi menghibur para pengunjung

JANJANG AMPEK PULUH
Janjang Ampekpuluh (tangga Empat Puluh) ini dibangun pada tahun 1908 yang pada awalnya merupakan sebagai penghubung antara Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Sebagai salah satu objek wisata di Kota Bukittinggi, jenjang ini telah memberikan inspirasi kepada pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf dengan judul lagu "Andam 0i”

RUMAH BUNG HATTA
Salah satu objek wisata budaya adalah Rumah Kelahiran Bung Hatta, rumah ini adalah tempat lahirnya Muhammad Hatta atau yang lebih akrab dipanggil Bung Hatta yang merupakan seorang tokoh nasional dan internasional, seorang pejuang dan proklamator kemerdekaan Indonesia. Rumah ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta merupakan salah satu alternatif obyek wisata bila berkunjung ke Bukittinggi. Dan didalamnya juga terdapat foto-foto kenangan Bung Hatta dan keluarga.

ADU KERBAU
Adu kerbau merupakan salah satu atraksi dan permainan anak nagari di Minangkabau, dimana dua ekor kerbau diadu untuk saling bertarung. Kegiatan ini masih kerap dijumpai di desa-desa di Sumatera Barat. Salah satunya yang rutin dilaksanakan di desa Padang Laweh, sebuah desa kecil yang terletak 10 kilometer dari Bukittinggi. Atraksi ini diselenggarakan setiap Selasa dan Sabtu pukul 15.00 wib

DANAU MANINJAU
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik, berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luasnya sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Keberadaan Danau Maninjau menciptakan sebuah cerita legenda Bujang Sembilan, yang dipercaya keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Alkisah ada satu keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokkan paras dan perilaku Sani menjadi daya pikat tersendiri bagi seorang pemuda bernama Sigiran. Singkat kata mereka kemudian menjalin asmara. Suatu hari mereka dituduh telah melakukan perbuatan amoral oleh para bujang. Untuk membuktikannya, mereka melompat ke kawah gunung Tinjau. Mereka bersumpah jika mereka melakukan tindak amoral maka gunung ini tidak akan meletus, dan jika mereka tidak melakukan tindakan amoral maka gunung ini akan meletus. Akhirnya gunung tersebut meletus dan hasil letusan tersebut membentuk kawah besar yang kemudian diisi oleh air dan menjadi danau seperti sekarang.

Presiden Pertama RI Ir. Soekarno pada suatu ketika berkunjung ke Danau Maninjau dan takjub dengan keindahannya. Untuk mengungkapkan kekagumannya tersebut ia menulis sebuah pantun yang berbunyi : “Jika makan arai Pinang, makanlah dengan sirih yang hijau, jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”. Pantun yang ditulis oleh Presiden pertama RI ini, cukup mewakili untuk menggambarkan keindahan
panorama alam Danau Maninjau nan eksotis.

Danau Maninjau terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Untuk bisa mencapai Danau Maninjau, perjalanan ditempuh melalui jalur darat. Ada 2 alternatif jalur untuk menuju ke Danau maninjau. Pertama, memasuki jalur dari Barat dan Kedua dari Timur. Dari Barat, perjalanan dimulai dari Padang melewati jalur Pariaman menuju Lubuk Basung (ibu kota Kabupaten Agam), lebih kurang ditempuh selama 1 ½ jam. Dan dari timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Bukittinggi dan dari kota Bukittinggi perjalanan dilanjutkan ke Danau Maninjau melewati kelok 44

Di sekitar Danau Maninjau banyak hotel yang bisa dijadikan untuk tempat menginap, mulai dari kelas berbintang sampai kelas melati. Di samping hotel, ada juga /home stay /yang dikelola oleh masyarakat, yang bias dijadikan sebagai alternatif bagi para wisatawan untuk tempat menginap. Sedangkan untuk mengobati rasa lapar, para wisatawan bisa memilih tempat makan yang disukai, karena banyak restoran-restoran yang tersedia disepanjang pinggir danau dengan menyajikan berbagai menu baik aneka masakan Padang maupun masakan dari mancanegara.

PUNCAK EMBUN PAGI
Sebelum mencapai Danau Maninjau kita akan berhenti sejenak di Embun Pagi di desa Padang Gelanggang 24 km dari Bukittinggi untuk menikmati udara yang sejuk dan nyaman sambil memandang keindahan Danau Maninjau dengan airnya yang membiru serta dikelilingi oleh bukit-bukit yang menghijau

PUNCAK LAWANG
Puncak Lawang, Matur dikenal sebagai penghasil gula tebu yang pembuatannya masih tradisional. Penggilingan tebunya masih memakai tenaga kerbau. Lokasi yang tepat di atas Danau Maninjau menyuguhkan pemandangan alam yang eksotik. Selain suguhan alamnya dipuncak ini banyak kegiatan wisata dapat dilakukan, diantaranya :
- Paralayang, Gantole / Paramotor dilawang dan Bayur
- Pertunjukan Kesenian Rakyat di Lawang dan Bayur
- Permainan anak Nagari di Lawang dan Bayur
- Lomba Layang-layang di Lawang dan Bayur
- Wisata Ton di Matur
- Lomba Perahu Naga dan Pancu Biduk di Muko-Muko.


Tags: sumatera, objek wisata, pariwisata, sumbar

Rabu, 06 Februari 2013

Silat Tradisional Minangkabau


Ilmu bela diri pencak silat,adalah  ilmu bela diri orang Melayu,Ilmu bela diri pencak silat pertama kali tercatat  dalam buku sastra baru pada abad ke XI.Dikatakan bahwa Datuk Suri Diraja dari  kerajaan Pariangan di kaki gunung Merapi telah mengembangkan silat Minangkabau  di samping bentuk kesenian-kesenian lainnya.Kemudian silat Minangkabau ini menyebar  ke daerah-daerah lainnya melalui migrasi para perantau


Seni bela diri silat Minangkabau ini mencapai puncak kejayaannya    pada zaman kerajaan Majapahit pada aabd ke XVI.Kerajaan Majapahit memamfaatkan    ilmu bela diri silat Minang sebagai ilmu perang untuk memperluas wilayah kekuasaannya

Pada saat itu Majapahit hampir menguasai seluruh nusantara kecuali    kerajaan Pasundan di jawa barat.

Sejak itu ilmu bela diri silat Minang mulai dipelajari orang    baik itu di Jawa sampai ke Malaysia.

Sedangkan di Minangkabau sendiri pendekar pendekar minangkabau    juga mengembangkan silat itu sendiri dengan berbagai macam aliran,seperti silek    Tuo,silek Kumango,Silek Pauh dan sebagainya.

Pada prinsipnya gerakan silat Minang hampir sama semuanya,tetapi    dengan tampilnya beberapa macam motif gerakan menurut para pendekarnya atau    juga topografi daerahnya maka berkembang lagi silat Minang lainnya dengan nama-nama    silat yang rasanya agak unik, Yaitu silek randah,silek garis,silek buayo lalok,silek    bayang dan sebagainya.

Disamping itu silek Minang ini bukanlah semacam gerakan silat    biasa.Para pendekar minang disamping kelihaian bermain silat biasanya juga disertai    dengan ilmu kebathinan

Ada silatnya yang disertai dengan ilmu gayung.Ilmu yang dapat    membuat musuh lemas tidak berdaya jika terkena pukulannya.

Melihat perkembangan silat Minang saat ini,yang semakin hari    semakin tidak nampak lagi sasaran tempat latihannya.Makin lama generasi Minangkabau    ini tentu tidak lagi menguasai ilmu bela diri warisan nenek moyangnya.

Kepada para pndekar Minang yang menguasai ilmu silat Minang    ini kalau dapat hendaknya mau untuk menurunkannya kepada generasi penerus agar    silat yang pernah dipakai oleh kerajaan besar seperti majapahit ini tidak hilang    di negeri asalnya Minangkabau.

[I]Sumber  : http://www.wahana-budaya-indonesia.com[/I]

BAHASA MINANGKABAU


BAHASA MINANGKABAUMasyarakat Sumatera Barat mempunyai bahasa daerah yang dikenal dengan Bahasa Minangkabau. Memiliki sepuluh dialek yang berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara bahasa Minangkabau dengan Bahasa Indonesia baik dalam bentuk maupun tatabahasanya. Perbedaan yang terjadi hanya pada ejaan terutama dalam pemakaian Vowel.
Vowel a dan e dalam Bahasa Indonesia menjadi "o" dalam Bahasa Minangkabau.
Apa menjadi "
Apo".
Mana menjadi "Mano"
Petang menjadi "Patang"
Senja menjadi "Sanjo"
Tua menjadi "Tuo"
Penutur Bahasa Minang kadangkala menghilangkan suku kata diakhir sebuah kata. Misalnya:
Kemana menjadi "Kamano" dan diucapkan "kama"
Mengapa jadi "Mangapo" dan diucapkan "Manga"
Berapa jadi "Barapo" dan diucapkan "Bara"
Bagaimana jadi "Bagaimano" dan diucapkan "Baa"
Lihat contoh kalimat dibawah ini:
Apakah yang akan kamu kerjakan?
Dalam Bahasa Minangkabau menjadi a tu nan ka karajo ang
atau apa sebabnya maka ia lari?
menjadi ba a mangko inyo lari?
Walaupun begitu, pada beberapa kata sambungan ada yang tidak dikenal akar silsilahnya seperti kata sambungan "jo", misalnya dalam kalimat jo a wa ang ka mari? (dengan apa kamu kemari?). Perkataan jo disini memiliki arti dengan. Ada juga pengertiannya yang lain pada kalimat berikut "itulah jannyo hambo" (itulah kata hamba).
Dalam kata-kata kiasan (pantun), prosa dan puisi Minangkabau, penggunaan kata "jo" memiliki pengertian yang sangat besar. Perhatikan pantun berikut:
Anak urang di sungai lasiah
Nak mudiak ka Batang Hari
Mandaki jalan babelok
Manurun ka
Bangka Hulu
Kok tasuo silang jo salisiah
Sarato banta jo ka lami
Dibaiki sajo jo nan elok
Itu banamo urang panghulu
Dalam bahasa Minangkabau, ada huruf mati yang dihilangkan atau dipertukarkan, misalnya dalam perkataan habis. huruf h dihilangkan dan huruf s diganti dengan huruf h sehingga menjadi abih, manis menjadi manih, hangus menjadi anguih.
Ada juga beberapa daerah menghilangkan r pada suku kata kedua, umpamanya garam menjadi ga-am, beras menjadi bareh atau ba-eh dan sebagainya.
Di daerah Pariaman, suku kata atau perkataan "nya" diganti dengan huruf hidup e. umpamanya kapan dia kemari? menjadi bilo wak e kama-i?, roman apa romannya menjadi coman a coman e.
Dalam bahasa Minangkabau ada bunyi majemuk yang terdiri dari vokal u dan a (ua), u dan i (ui) i dan e (ie) a dan i (ai). Vokal kedua dalam bunyi majemuk itu pendek sekali dan kurang sempurna bunyinya, disebut dengan vokal pelancar. Vokal ini seharusnya dinyatakan dengan vokal yang bertanda (pepet) di atasnya.
Perubahan Bunyi Morfem Awal
Misalnya:
Per-pa
pertinggi
patinggi
perantau
parantau
ter-ta
tertipu
tatipu
tergoda
tagoda
te-ta
telanjang
talanjang
terusan
tarusan
ber-ba
berlimau
balimau
berjudi
bajudi
be-ba
beban
baban
belang
balang
ke-ka
kenyang
kanyang
kelam
kalam
me-ma
melipat
malipek
meletus
malatuih
men-man
mencetak
mancetak
mencontoh
mancontoh
mem-mam
membelai
mambelai
membisu
mambisu

Asal-usul Minangkabau



Suatu siang di sebuah kawasan di Ranah Minang. Puluhan warga memadati arena pertandingan. Di tengah lapangan, dua ekor kerbau kekar saling berhadapan. Mereka akan diadu untuk ditetapkan sebagai sang juara. Itulah sepintas adu kerbau yang menjadi budaya turun-temurun masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat. Budaya warisan leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun itu sampai kini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat Minang.
Minangkabau. Suku besar di wilayah Sumatra Barat ini kaya akan warisan sejarah dan budaya. Minangkabau diambil dari kata minang yang berarti kemenangan dan kabau yang berarti kerbau. Dengan kata lain Minangkabau berarti “Kerbau yang Menang”. Penamaan ini berhubungan erat dengan sejarah terbentuknya Minangkabau yang diawali kemenangan dalam suatu pertandingan adu kerbau untuk mengakhiri peperangan melawan kerajaan besar dari Pulau Jawa.
Suku Minangkabau memang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan hewan ternak berkaki empat yang disebut kerbau. Itu antara lain terlihat pada berbagai identitas budaya Minang, seperti atap rumah tradisional mereka (Rumah Bogonjong). Rumah adat yang kerap disebut juga Rumah Gadang itu berbentuk seperti tanduk kerbau. Begitu pula pada pakaian wanitanya (Baju Tanduak Kabau).
Sudah beratus-ratus tahun lamanya kerbau menjadi salah satu hewan terfavorit di Provinsi Sumbar. Badan kerbau yang besar dan kekar dianggap mampu membantu berbagai macam pekerjaan manusia. Salah satu pekerjaan kuno yang dikerjakan dengan bantuan tenaga kerbau adalah menggiling tebu. Dengan alat sederhana, sang kerbau diikat di sebilah bambu yang terhubung pada alat pemeras tebu tradisional. Selama delapan jam bekerja, sang kerbau terus-menerus berputar mengelilingi alat pemeras. Uniknya, agar sang kerbau tidak pusing kepala, mata hewan itu ditutup dengan dua buah batok kelapa yang dilapisi kain.
Air tebu hasil perasan sang kerbau itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pembuatan gula merah tradisional. Masyarakat Minang percaya gula merah hasil kerja keras sang kerbau lebih gurih ketimbang dari alat modern.
Dari sisi sejarah, hewan kerbau bagi suku besar di Sumbar ini telah mengantarkan kejayaan mereka di masa silam. Konon, dahulu kala karena bantuan kerbau-lah masyarakat di Sumbar menang perang melawan suku Jawa. Akhirnya sampai sekarang mereka menamakan dirinya sebagai suku Minangkabau. “Jadi perang tak berakhir juga, jadi kami usulkan untuk adu saja kerbau. Oleh pihak penyerang dicarilah kerbau yang terbesar di daerahnya ditempatkan di tengah ladang. Orang sini hanya anak kerbau yang sedang menyusu. Karena kerbau yang sudah dua hari tak minum susu, dia lari mengejar susu ibunya. Jadi perut kerbau besar itu robek dan dia lari,” kisah Datuk Bandaro Panjang, pemuka adat.
Kisah sang kerbau ternyata tak hanya menjadi legenda semata. Hingga kini pasar ternak di Sumbar pun lebih banyak menjual kerbau ketimbang sapi. Sistem penjualan ternak orang Minang pun cukup unik. Berbeda dengan pasar sayur tradisional di pasar ternak ini tidak akan terdengar sepatah kata pun antara sang penjual dan pembeli. Transaksi yang berlaku hanya menggunakan tangan. Jari-jari tangan dipakai sebagai alat perhitungan harga jual ternak yang akan dibeli.
Badan padat, kaki kekar dan mata tajam. Itulah ciri khas Si Borgol, kerbau kesayangan Kati Sutan, petani Ranah Minang. Bagi Kati Sutan, memiliki kerbau seperti Borgol ibarat memiliki harta yang sangat berharga dan juga kehormatan. Borgol bukanlah sembarang kerbau. Ia seekor kerbau aduan yang sudah menang lima kali pertandingan. Karena kehebatan itulah, hewan tersebut kemudian mendapat gelar borgol yang berarti kuat mengunci lawan.
Tak hanya untuk hobi semata, kesenangan Kati Sutan mengikuti adu kerbau juga untuk meneruskan tradisi budaya Minangkabau. Ketangguhan Si Borgol yang sudah lima kali memenangkan pertandingan itu membuat Kati Sutan terkenal di kampungnya. Setelah berumur dua tahun, kerbau yang memiliki potensi sebagai aduan biasanya mulai dilatih oleh pemiliknya. Kali ini, Borgol pun akan dilatih untuk mempersiapkan kekuatan fisiknya menjelang pertandingan. Calon lawan tanding latihan harus sesuai berat tubuh Si Borgol. Sebab jika tidak imbang, latihan tarung itu akan percuma.
Latihan tarung kerbau paling lama dilakukan selama satu jam. Setelah yakin akan kekuatan Borgol, latihan tarung dihentikan. Kati Sutan sangat yakin kerbaunya akan menang kembali. Dalam adu kerbau tak hanya kekuatan kerbau yang menjadi andalan. Pemilik kerbau juga harus meminta jampi-jampi kepada dukun kerbau agar menang dalam pertandingan.
Seusai latihan tarung, Kati Sutan pun meminta seorang dukun kerbau untuk menjampi-jampi Si Borgol. Seperti pertandingan sebelumnya, Kati Sutan meminta bantuan Sutan Marajo, dukun adu kerbau yang terkenal di kampungnya. Sang dukun membawa sejumlah bahan-bahan alam untuk membuat jamu andalan bagi Si Borgol.
Bahan-bahan alam yang terdiri dari jahe, temulawak, lada dan daun-daunan alam lainnya mulai diracik. Di atas api besar, jamu-jamuan itu disangrai hingga gosong. Sementara keluarga Kati Sutan pun ikut membantu. Bahan lain untuk campuran jamu, seperti telur bebek, air jeruk nipis, minuman suplemen dan satu botol bir hitam turut disiapkan.
Setelah semua bahan siap, Sutan Marajo pun mulai membacakan mantera dan membakar kemenyan. Ia berdoa agar kerbau yang dijampinya dapat memenangkan pertandingan. Jampi-jampi pun dicampur ramuan. Setelah itu, ramuan kemudian ditempatkan di selembar daun yang keesokan harinya akan diberikan kepada Si Borgol. Keluarga Kati Sutan pun lantas mempersiapkan Borgol sang jagoan untuk diadu keesokan harinya.
Hari pertandingan pun tiba. Kati Sutan mulai bersiap-siap. Namun sebelum berangkat ke arena pertandingan masih ada sejumlah ritual yang harus dilakukan sang dukun, yakni meruncingkan tanduk milik Si Borgol. Tanduk merupakan salah satu bagian tubuh kerbau yang paling mudah untuk melukai lawan. Karenanya harus dibuat setajam mungkin. Dengan sebilah pisau Sutan Marajo menajamkan tanduk Si Borgol. Kini tanduk sang kerbau telah tajam laksana pedang.
Ritual pun dilanjutkan. Seperti layaknya manusia, Borgol harus mandi dahulu sebelum maju ke arena pertarungan. Sambil membalurkan air ke tubuh Borgol, Sutan Marajo merapalkan jampi-jampi ajiannya agar jagoan Kati Sutan ini kuat melawan musuh. Sesudah acara mandi selesai, sang dukun memberikan ramuan jampi-jampinya yang dibuat kemarin sore. Tanpa melawan Borgol pun kemudian memakan ramuan sang dukun dengan lahapnya. Tak lupa tubuh tegap Borgol pun dibaluri lumpur dan jelaga agar terlihat gagah. Kini seluruh persiapan telah usai dilaksanakan. Borgol sang jagoan sudah tak sabar bertemu lawan tandingan.
Siang itu di bawah sinar matahari, Borgol dilepas dari kandangnya. Bak seorang jagoan, dengan gagahnya Borgol berjalan keliling kampung menuju arena pertandingan. Letak arena pertandingan sekitar tujuh kilometer dari desa Kati Sutan. Namun ditemani sang dukun Sutan Marajo, Borgol tak gentar berjalan. Bahkan sesekali, kerbau kekar itu mulai berlari seakan tak sabar untuk bertemu sang penantang.
Akhirnya sampai juga Borgol di lokasi pertandingan. Rupanya sang lawan telah menunggu di pojok arena. Lawan tangguh Borgol tersebut berasal dari desa tetangga. Berbeda dengan Borgol yang sudah ikut lima kali pertandingan, lawannya justru baru kali ini maju ke arena adu kerbau.
Satu per satu penonton mulai berdatangan ke arena. Dengan tarif sebesar Rp 3.000, penonton dapat memilih tempat yang paling nyaman di sekeliling gelanggang. Awalnya adu kerbau dilakukan untuk mempertahankan tradisi suku Minangkabau. Sayang belakangan acara adu kerbau justru dimanfaatkan para penontonnya untuk bertaruh atau berjudi. Begitu pula dalam pertandingan Borgol. Dan Borgol-lah yang dijagokan. Hampir seluruh penonton bertaruh Borgol sang jagoan akan memenangkan pertandingan.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dua kerbau aduan dibawa ke tengah lapangan. Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, kedua kerbau langsung saling mengejar. Tak disangka, Borgol yang dijagokan justru lari terbirit-birit menghindari lawan. Adu kerbau kali ini ternyata tak berjalan lama. Hanya dalam sekejap, Borgol menyerah kalah dan lari tunggang langgang ke luar arena. Para penonton pun pulang dengan penuh kekecewaan. Borgol sang jagoan ternyata tak mampu mempertahankan gelarnya. Rona kecewa juga terpancar di wajah Kati Sutan. Kekalahan Borgol seakan kehilangan kehormatan bagi keluarga Kati Sutan.(DEN/Lita Hariyani dan Binsar Rahadian)
Sumber :liputan6.com

Suku-Suku Di Minang

Suku-suku di Minangkabau (bag. 2)
Tulisan ini merupakan bagian kedua tentang suku-suku di Minangkabau. akan dibahas disini tentang suku2 : Guci, Jambak, Sikumbang, Panai, Kampai, Payobada, Panyalai dan Bendang

1. Suku Guci

Suku Guci adalah salah satu di Minangkabau yang berafiliasi dalam Lareh Koto Piliang yaitu merapat ke suku Tanjung.
Besar kemungkinan nama suku ini diambilkan dari produk warga suku ini di masa lampau yaitu produk yang terbuat dari tembikar atau tanah liat yang disebut guci. Selain itu kemungkinan kedua adalah mereka bisa jadi peniaga atau pemasok ragam guci dari daratan Tiongkok.Asal usul
Persebaran Suku Guci
Suku Guci banyak tersebar di seluruh wilayah Minangkabau diantaranya di nagari Batipuh (Tanah Datar), Kurai 5 Jorong, Pandai Sikek dan Ampek Angkek (Agam), Koto Gadang dan beberapa nagari lainnya.
Kerabat suku Guci
Suku Guci di berbagai daerah bergabung dengan suku-suku yang berbeda-beda. Di daerah Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, suku Guci serumpun dengan suku Tanjung. Tapi di Pauh, Padang, suku Guci serumpun dengan Suku Melayu. Begitu pula di kecamatan Empat Koto, Agam, suku Guci disebut pula sebagai suku Guci Piliang, yang berarti suku ini telah merapat pula ke Suku Piliang, di Nagari Kuraitaji Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman & Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman, suku Guci merupakan kelompok masyarakat yang berasal dari suku Piliang yang menetap di Nagari Kuraitaji karena di nagari ini tidak ada suku Piliang
Gelar Datuk Suku Guci
Diantara gelar suku Guci adalah :
Penghulu agama Suku Guci
Penghulu agamanya bergelar Imam Marajo atau Imam Maharajo. Sedangkan malinnya adalah Malin Marajo.
Tokoh
Tokoh yang tercatat berasal dari suku Guci adalah :

2. Suku Sikumbang

Suku Sikumbang termasuk suku yang banyak berkembang diantara suku-suku Minangkabau. Warga suku ini menyebar di berbagai wilayah Minangkabau baik di luhak, rantau ataupun di perantauan.
Ada beberapa kata yang terkait dengan asal usul nama suku Sikumbang yaitu kata kumbang. Kumbang bisa berarti sejenis serangga, atau sebuah nama untuk hewan pemburu misalnya anjing. seekor anjing peburu dinamakan kumbang biasanya kalau anjing tersebut berbulu hitam seluruh tubuhnya. Anjing ‘kumbang’ sangat terkenal di zaman dulu di ranah Minangkabau. Bahkan Sutan Balun yang kemudian bergelar Datuk Perpatih Nan Sebatang diceritakan oleh Gus tf Sakai dalam novelnya yang berjudul Tambo Sebuah Pertemuan memiliki seekor anjing yang bernama ‘Kumbang’, yang pernah menimbulkan masalah hukum di istana Pagaruyung lantara gigitan ’si Kumbang’ terhadap seorang pengawal Istana.Asal-usul Suku Sikumbang
Jadi besar kemungkinan dahulu suku Sikumbang adalah orang-orang yang suka berburu dengan menggunankan anjing dan anjing mereka yang terkenal adalah ’si Kumbang’ yang kemudian menjadi nama suku mereka.

Sekutu Suku Sikumbang

Suku Sikumbang bersekutu dengan suku-suku lain di Minangkabau terutama Suku Tanjung, Suku Koto, Suku Piliang dan suku lainnya.

Gelar Datuk Suku Sikumbang

Diantara gelar datuk suku ini adalah :

Tokoh Suku Sikumbang

Diantara tokoh yang berasal dari suku ini adalah :

3.  Suku Jambak

Suku Jambak adalah salah suku di Minangkabau yang bernaung di bawah Lareh Bodi Caniago.
Suku ini banyak terdapat diPersebaran

Pemekaran

Di nagari Malalo, Batipuh Selatan (Tanah Datar), suku Jambak mengalami pertumbuhan populasi yang pesat yang mengakibatkan mereka harus memekarkan diri menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
  • suku Muaro Basa
  • suku nyiur
  • suku makaciak
  • suku pauh
  • suku simawang (diambil dari nama nagari tetangga)
  • suku talapuang
  • suku melayu (nama ini diambilkan dari nama suku melayu yang sudah ada). Sehingga bisa disebut sebagai suku melayu jambak.
  • suku jambak
  • suku pisang (nama suku ini juga sudah ada di daerah lain sehingga disebut saja sebagai suku pisang jambak).
  • suku sapuluh
  • suku baringin.

Kerabat

Sekutu yang paling populer dari suku Jambak adalah Suku Kutianyie. Selain itu juga berkerabat dengan Suku Bodi dan Suku Caniago

Penghulu Adat

Tokoh yang berasal dari Suku Jambak

  • Prof. Deliar Nur, seorang ilmuwan yang berasal dari Desa Parak Laweh, Pakan Kamih, Tilatang Kamang-Bukittinggi.

4. Suku Kampai

Suku Kampai adalah sebuah suku yang terdapat dalam kelompok etnis Minangkabau.
Suku ini banyak terdapat di Solok Selatan, Solok, Pesisir Selatan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar dan beberapa nagari lainnya di Minangkabau baik di darek maupun rantau.Persebaran

Kerabat

Suku ini berkerabat dengan Suku Panai, Suku Malayu, Suku Mandailiang dan beberpa suku lainnya.

Penghulu Adat

  • Dt. Rajo Malikan Nan Gomuak
  • Dt. Marajo Cindo Nan Kuniang

5. Suku Bendang

Suku Bendang adalah salah satu suku (marga) yang termasuk kedalam kelompok suku Minangkabau
Secara etimologi kata ‘bendang’ berasal dari kata ‘benderang’ yang artinya terang misalnya terdapat pada idiom ’suluh bendang’ (pelita terang).Etimologi

Persebaran

Suku Bendang banyak terdapat di nagari Gantung Ciri, Sibarambang, dan Lolo (Solok) dan Sungai Tarab (Tanah Datar). Selain itu suku Malayu Bendang banyak terdapat di Bayang, Pesisir Selatan.

Pemekaran Suku

Suku Bendang mengalami pemekaran menjadi beberapa suku yaitu:
  • suku Bendang Ateh Bukik
  • suku Bendang Rumah Baru,
  • suku Bendang Salek
  • suku Kampai Bendang (di Solok Selatan)
  • suku Malayu Bendang (di Bayang)

Kerabat

Kerabat paling dekat dengan suku Bendang adalah suku Malayu, suku Panai, suku Kampai dan beberapa suku lainnya.

6.  Suku Panai

Suku Panai termasuk ke dalam subetnis suku Malayu, yang merupakan sebagian dari suku bangsa Minangkabau. Suku ini juga berkerabat dengan Suku Kampai dan Suku Bendang, yang semuanya menganut adat Koto Piliang dan sebagian juga menganut campuran kedua adat Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Suku ini banyak terdapat di daerah Kabupaten Solok Selatan. Suku ini juga banyak melakukan pemekaran suku.
Nama Panai sendiri banyak terdapat di berbagai wilayah di Sumatera. Misalnya di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara terdapat tiga kecamatan menggunakan nama “Panai” yaitu Kecamatan Panai Tengah, Hulu dan Hilir. “Panai” juga merupakan nama sebuah kerajaan di Sumatera Utara yaitu Kerajaan Pannai. Apakah ada hubungan antara nama suku Panai dengan semua hal itu masih perlu penelitian lebih lanjut.Asal Usul nama Panai

Gelar Penghulu Adat Suku Panai

7. Suku Pitopang

Suku Pitopang adalah salah satu suku yang banyak terdapat di Luhak Limo Puluh Koto dan Riau (wilayah Kuantan, Kampar dan Rokan).
Kadang-kadang suku ini disebut Patapang, Petopang, Pitapang dan Patopang. Mungkin asal katanya adalah Topang yang berarti Sangga atau Dukung (Penopang/Penumpu).Etimologi

Persebaran

Suku ini banyak menyebar di Kabupaten dan kota Lima Puluh Kota dan Riau.

Penghulu Adat

Diantara penghulu adatnya adalah:
  • Dt. Sinaro Batuah
  • Dt.Paduko Sedio
  • Dt.Penghulu Mudo
  • Dt. Mangkuto Simarajo

8. Suku Payobada

Suku Piboda atau Payobada adalah salah satu suku (marga) dalam kelompok etnis Minangkabau, yang penyebarannya tersebar merata di tiga Luhak yang tersebut dalam tambo, yaitu Luhak Tak nan Data atau Tanah Datar (sekarang), Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah
Piboda jika merujuk pada Bahasa Sansekerta secara etimologis, nama suku ini terdiri dari dua kata yaitu phi dan boddha.Etimologi

Persebaran

Warga suku ini banyak terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota, Silungkang Sawahlunto, Riau dan beberapa nagari lainnya.

Pemekaran

Suku juga mengalami pemekaran spt halnya suku Minang yang lain, diantaranya adalah adanya suku Tanjung Payobada di nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Agam.

9. Suku Panyalai

Suku Panyalai merupakan salah satu suku yang bertempat tinggal di Nagari Kuraitaji (sekarang terletak dalam 2 daerah otonom yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman).
Suku Panyalai ini mempunyai 4 paruik yaitu[1]:
  1. Jingkaro Penghulu : Datu Basa
  2. Subarang Ilia Penghulu : Datuk Penghulu Basa Pauh Penghulu
  3. Pauh penghulu : Datuk Majo Basa
  4. Subarang ulu Penghulu : Datuk Saripado Gadang/Ketek
Masih banyak suku-suku lain di Minang yang belum memiliki keterangan yang memadai. Diantaranya:
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Minangkabau
sumber detailnya silahkan diperiksa pada link

Pituah Dan Pantun Minang

PITUAH

Nak Urang koto ilalang
Nak lalu ka pakan Baso
Malu jo sopan kok lah ilang
Habihlah raso jo pareso

Nan ado samo dimakan
Nan indak samo dicari
Kok Jauah kana mangana
Kok dakek jalang manjalang

Adat babarih babalabeh
Baukua jo bajangko
Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua jo patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso

Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso

Balabiah ancak ancak
Bakurang sio sio
Diagak mangko diagiah
Dibaliak mangko dibalah

Bayang bayang sapanjang badan
Dalam awa akhia mambayang
Dalam baiak kanalah buruak
Dalam galak tangih ka tibo

Hati gadang hutang kok tumbuah
Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Jikok kato bamulo dari hati
Yo ka hati juo ka masuaknyo
Jikok kato bamulo dari lidah
Talingo sajo parantiannyo

PANTUN

Badabua ombak pantai Puruih
Abunyo sampai ka ulak karang
Dimalah badan indak ka kuruh
Badan dirantau taragak pulang

Den cubo batanam unbang
Kok untuang jadi kalapo
Den cubo bataman sayang
Kok untuang manjadi cinto

Ganjia bana si manggih kino
Alum di gampo alah ratak
Ganjia bana parangai nak gadih kini
Alun disapo alah galak

Dilorong pado sadahnyo
Sadah langkitan Padang
Diambuih jo lingga cino
Ndk ado kamisahan kito
Walau dilamun riak jo galombang
Antah kok Tuhan nan kuaso

Kok ado sumua di ladang
Buliah  kito manompang mandi
Kalaulah tajalin kasiah jo sayang
Ndak mungkin dituka lai

Pai baburu urang karimbo
Singgah sabanta ka Painan
Duduak tamanuang minum kopi
Siang jo malam taragak juo
Kamalah kasiah ka disampaikan
Cameh raso dalam hati

Urang minang pai ka serang
Maminum talua sarato jamu
Kok iyo kito samo sayang
Bialah untuang kabatamu

Kain putiah panjang bajelo
Puyuah balago dalam padi
Heran sakali hati hambo
Guruah patuih hujan tak jadi
Pisang sirandah masak ketek
Mari diguntiang jo dirauik
Carilah biduak panjang ampek
Paambiak bungo dalam lauik
Ikan banamo Sutan Deman
Makan barulang ka parahu
Lautan lah jadi pamainan
Labuhan kami balun tahu

 Sekian Terima kasih